Demokrat Bela Denny Indrayana

|

Denny Indrayana (Foto: Heru H/okezone)

Demokrat Bela Denny Indrayana

JAKARTA - Politikus Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsudin meminta agar polemik terkait pernyataan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana, tidak dibesar-besarkan.

Didi berpendapat, masyarakat berhak memberi penilaian sendiri terkait polemik tersebut. Menurutnya, maksud dan tujuan Denny adalah agar para pengacara yang selama ini membela koruptor secara membabi buta karena dibayar, bisa segera instrospeksi diri membuka mata hati dengan tidak lagi membela secara membabi buta.

"Apalagi masyarakat sudah sangat muak dan benci pada kejahatan korupsi yang jelas-jelas telah menyengsarakan rakyat. Jadi pesan moral yang disampaikan Denny tentu baik," kata Didi melalui rilisnya kepada Okezone di Jakarta, Selasa (28/08/2012).

Karena itu Didi yang juga anggota Komisi Hukum DPR ini, menganggap berlebihan jika ada pihak-pihak yang mencoba membawa permasalahan tersebut ke ranah hukum dengan melaporkannya ke pihak kepolisian.

"Saya sangat menghormati hak sahabat-sahabat advokat yang sangat tidak berkenan pada pernyataan Denny, namun untuk melakukan langkah pidana terhadap Denny hendaknya dipikirkan dulu dengan matang dan bijaksana. Ini bukanlah persoalan menang kalah atau sekadar harga diri. Katakanlah kesalahan memang terjadi karena pernyataan Denny yang tidak komunikatif," sambungnya.

Jika laporan pidana tersebut diteruskan, sambung Didi, maka justru akan kontraproduktif yang semakin membawa kebencian publik pada profesi pengacara. Sebab, polemik yang muncul di sebuah media jejaring sosial merupakan hal yang biasa terjadi.

"Saya meyakini, pihak kepolisian akan mempertimbangkan apakah Denny benar-benar sengaja menghina profesi advokat atau tidak. Oleh karenanya saya menyarankan kepada sahabat-sahabat advokat memerhatikan sikap kebatinan masyarakat dalam membela kliennya, terutama tersangka kasus dugaan korupsi," ungkapnya.

(lam)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Mulai 1 November Harian Jurnas Ditutup