Musa Maliki

Apa Kata Slavoj Zizek tentang Krisis Eropa?

Selasa, 28 Agustus 2012 09:19 wib | -

Apa Kata Slavoj Zizek tentang Krisis Eropa? Hal yang sangat serius terjadi di Eropa adalah krisis utang. Ada yang berargumen bahwa problem ini terjadi karena ekonomi sebagai panglima. Logika ekonomi sendiri yang mendesak dirinya sendiri menjadi ideologi. Ideologi ini menyihir semua orang untuk mengikuti mekanisme ekonomi secara alamiah. Jadi mekanisme ekonomi kapitalistik menjadi suatu kewajaran (a-politis) dan kebenaran.

Istilah biaya rendah, efisiensi tinggi, rasionalitas pasar, persaingan bebas, dan sejenisnya, merupakan udara yang dihirup umat manusia jagat ini setiap detik. Logika inilah yang terus menghidupi monster yang bernama korporasi-korporasi monopolistik. Luar biasanya lagi, korporasi-korporasi besar ini dilindungi secara hukum, dijaga oleh kekuatan militer oleh negara yang berwatak borjuis dari cara-cara diplomatis sampai dengan cara-cara kekerasan-otoritatif (legal).

Bagi negara yang terjebak utang dan dimungkinkan devisinya defisit tak tertolong, maka dia harus ditambah utang lagi. Proses ini yang sampai detik ini terjadi di Eropa. Krisis utang di Yunani menambah defisit pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen (Agustus, 2012), dan imbasnya ke Spanyol, Italia, dan yang terakhir ini Siprus terus bertambah parah. Logika ekonomi kapitalistik akan menambah lagi pembayaran utang-utang mereka dikemudian hari oleh generasi berikutnya. Fenomena ini adalah proses legalisasi lintah darat.

Bagi Jerman, logika ekonomi atau ekonomi sebagai panglima adalah mekanisme untung-rugi, pihak pemberi bantuan seharusnya memperoleh keuntungan, bukan kerugian. Apa yang ingin diraih oleh Angela Merkel adalah kekuasaan politik yang lebih lagi di Eropa dengan memanfaatkan momentum krisis Eropa ini.

Namun demikian, dengan posisi krisis yang bertambah parah, sepertinya Jerman sendirian tak mampu membantu negara-negara yang sudah mengalami resesi tersebut. Jerman hanya menekankan pada negara yang mengalami krisis terparah, Yunani untuk terus menerapkan kebijakan fiskal ketat. Sebaliknya, Yunani tak mungkin terus menerus melakukan kebijakan pengetatan ikat pinggang (kebijakan fiskal) seperti kenaikan pajak, penghematan pengeluaran pemerintah, pemotongan gaji, dan uang pensiun. Hal ini didukung oleh Prancis yang memecah belah kesatuan antara Jerman dan Prancis pada saat Sarkozy berkuasa.

Walaupun diberi dana talangan (17 Juni 2012), Yunani tetap terpuruk. Usulan perubahan ECB menjadi FED dan perubahan bank lokal lainnya pun tidak begitu berpengaruh besar jika dibandingkan dengan utang Yunani yang sedang menuju ke kebangkrutan. Penerbitan Eurobonds masih dianggap terlalu berisiko oleh para investor. Secara imperatif liberal, seharusnya Jerman menolong mereka.

Metaphor itu dipertegas dengan kondisi yang sudah memprihatinkan di Yunani, misalnya tingkat bunuh diri di Yunani meningkat 25 persen tahun lalu; keengganan Merkel untuk menanggung utang bersama-sama; pihak IMF yang pesimis, walaupun sudah menalangi Yunani sebesar 130 milliar euro; pihak Bank Sentral Eropa (ECB) yang juga pesimis dalam melihat ketidakjelasan masa depan krisis Eropa ini.
Selain kondisi di Eropa sendiri, ekonomi global pun sedang suram. Pertumbuhan ekonomi Amerika, China, dan negara lainnya. Indikator lain seperti pengangguran pun meningkat dimana-mana.

Apa kata Zizek?

Menurut Slavoj Zizek, “Neoliberalism is in Crisis”. Menurutnya, krisis ini memberikan peluang besar bagi negara-negara Eropa untuk meradikalisasi dirinya. Kondisi ini memberi momen penting bagi negara-negara yang ada di dalam Uni Eropa merenungkan kembali keanggotannya.

Renungan ini seharusnya memberikan aksi radikal yang secara berani dilakukan oleh negara-negara yang merasa tidak diuntungkan oleh Uni Eropa. Slavoj Zizek adalah seorang filsuf Slovenia yang sudah diakui secara internasional sebagai kritikus sosial. Dia percaya akan demokrasi sejati, yakni representasi rakyat secara radikal terhadap kamapanan yang menindas. Arab Spring adalah kasus yang Zizek selalu kutip dalam menjelaskan pentingnya demokratisasi sejati di Eropa.

Demokrasi sejati tidak kompatibel dengan neoliberal atau kapitalisme monopolistik.
Demokrasi sejati adalah otentisitas setiap warga negara secara sadar untuk mengekspresikan apa yang mereka mau. Warga negara sendirilah yang menentukan secara sadar arah negara mereka, bukan ditentukan oleh segelintir kaum pemilik modal yang berdalih telah ebrjasa besar mengurangi pengangguran dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Demokrasi otentik ini adalah suara setiap warga negara agar tidak satu pun terlewatkan dalam berpartisipasi politik negerinya. Oleh sebab itu, demokrasi sejati adalah universal, yakni bukan hak paten Barat (Eropa dan Amerika) saja.

Untuk keluar dari krisis Eropa, maka para pelaku Eropa sendiri harus merekonstruksi subjek dirinya, artinya negara Eropa harus keluar dari ideologi liberal Barat dan ideologi fundamentalisme agama sebagai instrument melegalkan kapitalisme monopolistik. Subjek Eropa seharusnya tidak didikte ideologi neoliberal (pasar bebas), sebab demokrasi dalam kubangan kapitalisme adalah demokrasi Plato seperti sekarang (‘demokrasi demokrasian’). Hal ini diilustrasikan seperti seolah-olah semua orang bersuara, tetapi suara-suara yang begitu banyak justru melegitimasi satu ideologi: kapitalisme (pasar bebas).

Mobilisasi massa yang selama ini terjadi dalam kubangan kapitalisme global dan dialog-dialog yang terjadi antara pihak anti-kapitalislme/antiglobalisme dengan para kapitalis/globalis adalah kepalsuan yang justru melegitimasi demokrasi dalam kapitalisme. Demokrasi liberal adalah kamuflase dari perampokkan sebagian besar penduduk dunia oleh segelintir kaum komperador atas nama pertumbuhan ekonomi dunia.

Menurut Zizek yang menamai dirinya sebagai kiri radikal, revolusi radikal seperti Arab Spring sangat diperlukan oleh warga Uni Eropa. Revolusi ini adalah proses demokrasi yang otentik. Kesadaran subjek universal dalam diri setiap warga Eropa perlu bergerak secara bersama agar demokratisasi ini terwujud. Namun kesadaran ini perlu frekuensi kesadaran dan momen yang tepat. Oleh sebab itu, revolusi yang didambakan oleh Zizek pun harus menunggu, tanpa harus secara sengaja digerakkan seperti yang terjadi pada revolusi internationale, tahun 1917. Bagi Zizek, demokrasi sejati ini adalah dorongan psikologi alamiah manusia yang  pasti akan terjadi.

Musa Maliki
Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta; Al Azhar Jakarta; Paramadina
Dapat dihubungi di musa_maliki@yahoo.com

(//mbs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »