Pemimpin yang Berwibawa

Selasa, 28 Agustus 2012 14:06 wib | Ahmad Dani - Okezone

Kerusuhan Sampang jilid II kembali membuat miris sejumlah pihak. Karena kejadian itu terjadi tak lama setelah umat Islam Indonesia merayakan Idul Fitri 1433 H sebagai pertanda kemenangan melawan hawa nafsu. Tapi, tampaknya kemenangan melawan hawa nafsu tidak terjadi di wilayah konflik, hanya karena bertahan demi harga diri, mereka pun rela saling bunuh meski silsilahnya merupakan masih ada hubungan saudara.

Usai kejadian, pemerintah pusat baru mengirimkan sejumlah menteri ke lokasi kerusuhan di Sampang, Madura, Jawa Timur, kemarin. Setelah berkunjung ke lokasi kerusuhan, para menteri yang diutus pemerintah mengadakan rapat di Gedung Grahadi. Hasil rapat menyimpulkan peristiwa di Sampang hanya murni kriminal biasa. Polisi pun diminta untuk bertindak mengatasi persoalan di Sampang.

Sebagai evaluasi, ada hal lain yang dirasa perlu juga ditasi. Yakni, bagaimana kehidupan kedua kelompok ke depan yang salah satu anggota keluarganya ada yang tewas. Bisakah mereka tak menaruh dendam? Gubernur Jawa Timur, Soekarwo sudah mengendus indikasi bahaya tersebut. Solusi yang paling tepat adalah memutus mata rantai dendam. Karena saya lihat di sana kalau sudah membunuh pasti akan ada saling dendam anak-anaknya sehingga tidak pernah selesai," kata Pakde Karwo Senin kemarin.

Nah inilah yang perlu dipikirkan oleh pemerintah selanjutnya. Bagaimana memutus rantai dendam yang mungkin muncul di antara kedua kelompok. Meski dulu pernah berhubungan sebagai saudara, tapi kalau sudah nyawa melayang, mungkin hilang status saudara.

Pemahaman atas kultur suatu wilayah juga diperlukan untuk mengatasi persoalan di Sampang. Apalagi kata Gubernur,  kultur masyarakat di Kabupaten Sampang itu memang sangat keras. Dibutuhkan pemimpin yang berwibawa untuk mengatasi persoalan di atas. Pemimpin yang bukan hanya bereaksi ketika sudah ada aksi. Tapi, bagaimana bisa mendeteksi aksi supaya menjadi sesuatu yang konstruktif bagi kehidupan bermasyarakat.

Penegakan hukum yang lemah juga bisa menjadi pemicu kerusuhan. Pemerintah yang seharusnya menjadi alat untuk bisa melindungi warganya yang menjadi korban, justru terkadang tak berdaya menghadapi para pelaku kekerasan. Ironi memang. Seperti perkataan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengkhawatirkan kerusuhan yang marak terjadi di sebuah negara apakah mengindikasikan negara yang belum merdeka? (ahm)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »