Tercorengnya Bursa Efek Indonesia

Rabu, 29 Agustus 2012 11:32 wib | Rani Hardjanti - Okezone

INSIDEN matinya remote trading di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin 27 Agustus lalu sangat mencoreng muka perekonomian Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, lantai perdagangan efek merupakan tempat bertransaksi secara massal investor asing dan domestik.

Kondisi ini membuat Menko bidang Perekonomian Hatta Rajasa dan Menteri Keuangan Agus Martowardojo berang. Sementara Dirut BEI Ito Warsito masih berusaha mengklarifikasi semuanya, namun dari sisi investor masih belum terima.

Bahkan, BEI akan diadukan ke Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) oleh investor. Wajar saja mereka melakukan hal tersebut. Sebab di hari mengenaskan tersebut, nilai transaksi yang tercatat hanya Rp1 triliun, dari biasanya mencapai Rp4 triliun hingga Rp5 triliun. Pada saat kejadian, investor merasa tidak ada penjelasan yang signifikan.

Namun, BEI tidak tinggal diam. BEI saat itu langsung memundurkan jam pembukaan dari pukul 09.30 JATS menjadi 10.00 JATS. Koneksi perdagangan pun dialihkan ke sistem Disaster Recovery Center (DRC). Namun sayangnya distribusi koneksi tidak semuanya berjalan lancar.

Sebenarnya, kejadian ini bukan yang pertama kali. Pada 2009 lalu, juga terjadi gangguan pada teknologi sistem informasi pada salah satu anggota bursa, PT Trimegah Securities Tbk. Akibatnya, berbuntut pada kerusakan secara menyeluruh di lantai bursa.

Sekarang yang perlu dilakukan adalah melakukan perbaikan agar jika terjadi hal serupa bisa segera diantisipasi dan tidak mengganggu perdagangan saham. Sebab, BEI merupakan wajah dari perekonomian Indonesia. Sejatinya, terhentinya perdagangan di BEI pun hanya dapat dilakukan jika dalam keadaan darurat atau kejadian luar biasa. BEI juga merupakan bagian dari identitas negara, sama halnya seperti rupiah.

(rhs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

 
Berita
Terpopuler
Komentar Terbanyak
BACA JUGA »