Jepang Sponsori Penelitian 6 Mahasiswa Doktor UGM

|

Foto: dok. UGM

Jepang Sponsori Penelitian 6 Mahasiswa Doktor UGM

JAKARTA - Sebagai negara dengan tingkat kepedulian terhadap bencana yang sangat tinggi, Jepang pun menaruh perhatian pada penelitian tentang tanggap bencana. Salah satu perhatian Jepang ditunjukkan dengan "mensponsori" penelitian enam mahasiswa doktor Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam bidang mitigasi bencana.

Penelitian bertajuk "Developing Model of University - Community Collaborative Information Management for Evacuation Preparedness in Tourism Destinations : CaseStudy Kyoto-Japan and Yogyakarta-Indonesia" yang diusung Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut dianugerahi research grant (dana riset) dari Japan Society Promotion of Science (JSPS).

Fasilitas dana riset ini akan digunakan enam mahasiswa program doktor di Fakultas Geografi UGM dan Asisten Peneliti Muda PSBA UGM untuk meneliti di Jepang. Penelitian tersebut dijadwalkan berlangsung selama 10 hari, yakni pada 3-12 Oktober 2012. Penelitian kolaboratif ini juga akan melibatkan delapan mahasiswa doktoral dari Research Center for Disaster Mitigation of Urban Cultural Heritage (DMUCH) Ritsumeikan University di bawah bimbingan Prof. Dr. Kanegae.

Pemimpin tim dua negara ini, Prof. Dr. Sudibyakto, bertutur, tim peneliti akan mempelajari penerapan model yang dikembangkan UGM dalam Program Pengurangan Risiko Bencana akibat Gempabumi dan Letusan Gunungapi Merapi. Tim akan meneliti di Daerah Tujuan Wisata Kota Gede, Candi Borobudur, dan Parangtritis.

"Penelitian ini diharapkan menghasilkan Panduan Mitigasi Bencana untuk turis yang sedang berkunjung di lokasi wisata dan daerah-daerah yang berpotensi rawan terhadap bencana alam," ujar Sudibyakto, seperti dinukil dari laman UGM, Sabtu (1/9/2012).

Tidak hanya itu, penelitian ini juga akan melibatkan partisipasi masyarakat di sekitar lokasi wisata untuk mengelola risiko bencana. Mereka akan dibekali pengetahuan tentang penilaian potensi bencana, penyusunan peta rawan bencana, mengomunikasikan risiko di antara pelaku dan masyarakat, menyusun peta jalur evakuasi, hingga mengelola risiko bencana yang akan dihadapi.

(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Alat Bukti Tak Kuat, Kasus BISM Bisa Dihentikan