Cerita Donita "Lesbi" dari Kota Pahlawan

|

Ilustrasi pasangan sejenis (Foto: Ist)

Cerita Donita

SURABAYA - Kepulan asap rokok keluar dari mulut perempuan bertubuh kekar. Bahkan sesekali menghela napas sambil menenggak segelas minuman ringan di sebuah kafe di Surabaya. Sayup-sayup terdengar lagu berjudul Cinta Terlarang yang dibawakan The Virgin ini memenuhi ruangan kafe itu.  

Sepintas memang tidak terlihat jika tubuh yang dibungkus pakaian pria ini adalah perempuan. Penampilan yang macho ini seolah-olah menutupi sifat feminim yang ada di tubuh kaum Hawa yang satu ini.

 

Perempuan macho itu sebut saja Donita (bukan nama sebenarnya). Kepada Okezone, Donita mengaku adalah seorang lesbian atau yang akrab disebut anak L. Bahkan, mahasiswi semester akhir di salah satu PTS Surabaya ini telah memiliki pasangan yang berasal dari kota Medan. Keduanya memang telah tinggal bersama sejak satu tahun yang lalu.

 

Perilaku menyimpang menjadi penyuka sesama jenis adalah bertentangan dengan norma dan agama. Kondisi seperti itu, sangan disadari oleh seorang lesbian. Namun, mereka seolah tak peduli dengan stigma masyarakat perilaku menyimpang ini.

 

Bahkan seorang lesbian menganggap pada dasarnya keinginan menjadi anak L dikarenakan faktor ingin menjadi diri sendiri, ketimbang harus hidup normal malah bertentangan dengan jiwa dan nuraninya. Tak hanya itu, perilaku menyimpang ini pun disadari adalah perbuatan dosa. Tapi apa boleh dikata, mereka sudah beranggapan bahwa dosa adalah perkara nanti dan menjadi urusan Tuhan.

 

"Memang ini bertentangan. Terlebih lagi di mata masyarakat. Kalau dibilang dosa ya saya sadar yang saya lakukan adalah dosa. Tapi itu perkara nanti. Karena dosa adalah urusan Tuhan," tuturnya ketika berbincang dengan Okezone, Jumat (31/8/2012) malam.

 

Menjadi seorang L, mulai dia rasakan ketika masih duduk di kelas VI SD. Perempuan yang tinggal di Sidoarjo ini memang sejak kecil banyak bergaul dengan laki-laki. Bahkan, beberapa permainan ala anak laki-laki hingga berpakaian layaknya pria sudah melakat dalam dirinya. Menginjak dewasa, dia semakin sering mengerjakan pekerjaan laki-laki.

 

Terlebih lagi, sifat orangtuanya yang acuh tak acuh untuk memperhatikan perkembangan anaknya itu. Entah darimana datangnya tiba-tiba perasaan untuk menyukai perempuan itu pun muncul. Meski sadar bahwa sikap tersebut adalah bertentangan dengan norma yang ada, namun Donita menuruti perasaan itu. Hingga akhirnya dia sempat menjalin cinta dengan tetangga rumahnya.

 

Seiring berjalannya waktu, cinta terlarang sesama jenis ini pun berlangsung secara sembunyi-sembunyi. "Hingga saat ini, saya begini orangtua saya tidak tahu. Tapi seandainya tahu pasti mereka akan marah besar. Yang tahu hanya adik saya tapi dia cuek dan menganggap ini adalah pilihan hidup yang harus saya jalani. Kalau adik saya normal," ujar perempuan berambut pendek ini sambil menghisap rokok.

 

Berperan sebagai laki-laki (Buci) dalam sebuah hubungan penyuka sesama jenis hanyalah pada persoalan komitmen untuk membina hidup bersama. Jika berperan sebagai Buci, komitmenya layaknya sebuah rumah tangga dalam kehidupan orang normal, yakni melindungi pasangan, menafkahi pasangan hingga sebagai tulang punggung sebuah keluarga. "Komitmen ini terbentuk secara alamiah dan saling memahami," katanya.

 

Mahasiswi Jurusan Hukum Perdata ini, pernah suatu ketika ingin keluar menjadi perempuan yang hidup normal. Dia pun sempat menjalin hubungan dengan salah satu lelaki di kampus tempatnya kuliah. Namun dalam hubungan tersebut, Donita tidak menemukan kedamaian dan kenyamanan dengan kekasih. Bahkan, saat menjalin hubungan itu, dia merasa ada yang bertentangan. Meski hanya berjalan beberapa bulan saja ternyata hubungan tersebut kandas.

 

Donita lebih memilih menjadi penyuka sesama jenis. "Saya merasa nyaman seperti ini. Ketika menjalin hubungan dengan laki-laki malah tidak menjadi diri saya sendiri. Inilah diriku sebenarnya," tandasnya.

 

Sebenarnya, kata Donita, tidak ada perbedaan antara menjalin hubungan sejenis atau berlainan jenis. Orang normal saat berhubungan badan tentu tujuannya adalah kepuasan. Dia juga mengaku akan tetap ingin menjadi diri sendiri meski sebenarnya keputusan itu bertentangan dengan norma-norma yang ada. Dan yang terpenting badinya tidak berbuat negatif seperti bersentuhan dengan narkoba atau berbuat kriminal yang merugikan masyarakat.

 

"Makanya kami sebagai komunitas lesbi banyak melakukan kegiatan sosial agar keberadaan kami tetap bermanfaat bagi masyarakat meski selama kegiatan itu tidak terang-terangan," tukas Donita sembari menyruput segelas kopi susu.

(sus)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Sekjen DPR Hanya Akui Pimpinan dari KMP