Hasil Rakornas MUI Belum Tentukan Sikap Soal Sampang

Selasa, 04 September 2012 01:22 wib | Catur Nugroho Saputra - Okezone

Ilustrasi Ilustrasi JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tidak akan terburu-buru mengeluarkan fatwa terkait pengikut Tajul Muluk yang beraliran Syiah, dan akan berupaya meredam konflik sosial di Sampang, Madura.

Ketua MUI Pusat KH Slamet Effendi Yusuf menjelaskan, sikap MUI pusat yang berbeda dengan MUI Sampang dan Jawa Timur ini, dikarenakan pihaknya masih mempelajari terus apakah ajaran Syiah yang dianut Tajul Muluk melenceng atau tidak.

"Bagaimanapun juga menurut MUI pusat kasus berkaitan dengan masalah keagamaan dan kemasyarakatan. Jadi penyelesaiannya tidak bisa melalui agama saja," kata Slamet kepada wartawan, usai acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) MUI, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Senin (3/9/2012).

Slamet menuturkan, pada 2011 MUI Pusat bersama MUI Sampang, pimpinan Mabes Polri, alim ulama, dan Tajul Muluk sudah pernah berdiskusi langsung. Namun begitu MUI belum bisa mengeluarkan fatwa apapun terkait konflik tersebut.

Hingga kini, kata dia, MUI pusat sedang mempelajari Syiah yang dianut oleh Tajul Muluk melalui aspek ajaran dari ukhuwah Islamiyah dan dunia Islam.

"Kami sedang mempelajari masalah ini, yang penting persoalan Sampang ini jangan menjadi inggar bingar namun dicarikan solusinya," jelasnya.

Menanggapi tentang fatwa MUI Sampang dan Jawa Timur yang mengatakan Syiah ajaran sesat, Slamet mengatakan semua fatwa yang dikeluarkan MUI hanya untuk menjaga sikap dan kenyakinan masyarakat yang tidak boleh disikapi dengan kekerasan.

"Kami tidak membenarkan kalau adanya tingkah laku kekerasan, setelah fatwa MUI keluar," tegasnya.

Lebih lanjut, Slamet membenarkan kalau MUI pusat sudah pernah mengeluarkan fatwa pada tahun 1984. Namun saat itu fatwa MUI hanya menyebutkan kalau kita perlu waspada dengan aliran Syiah.

(ris)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »