Umat Kristiani Myanmar Turut Rasakan Diskriminasi

|

Foto : warga Chin Myanmar (CHRO)

Umat Kristiani Myanmar Turut Rasakan Diskriminasi

NAYPYIDAW - Warga Kristen Chin yang tinggal di bagian barat Myanmar, juga mengalami diskriminasi oleh kelompok mayoritas di Myanmar. Mereka pun sering dipaksa untuk berpindah keyakinan.

Organisasi HAM Chin (CHRO) merilis laporan mengenai penindasan warga Kristen Chin di Myanmar. Selama ini, warga Chin menjadi korban pelanggaran HAM dan penindasan dari Pemerintah Myanmar. Mereka juga dipaksa bekerja di kamp-kamp dan disiksa.

"Pemerintahan Myanmar di bawah Presiden Thein Sein mengklaim bahwa kebebasan beragama dilindungi oleh hukum, namun pada kenyataannya, Buddisme dinyatakan sebagai agama nasional," ujar Direktur CHRO Salai Sing, seperti dikutip Irrawaddy, Rabu (5/9/2012).

"Institusi negara yang bersifat diskriminatif dan pejabat-pejabat dari junta militer terus bertindak dengan cara yang sama. Tidak banyak suasana reformasi yang dirasakan di Negara Bagian Chin," imbuhnya.

Berdasarkan laporan dari CHRO, banyak pelajar-pelajar yang berasal dari etnis Chin, dilarang untuk beribadah dan dipaksa berpindah keyakinan. Mereka pun dipaksa mencukur rambutnya hingga plontos dan dipaksa mengenakan jubah.

"Kami selalu diancam, kepala sekolah kami Aung Myint Tun dan yang lain mengatakan, 'bila kau tidak berpindah keyakinan, kami bisa menangkapmu dan memenjarakanmu, kami bisa melakukan apa yang kami inginkan. kau hanyalah mainan di tangan kami'," ujar seorang warga Chin.

Pemaksaan untuk berpindah keyakinan tidak hanya dirasakan oleh umat Kristiani Myanmar. Menurut laporan dari media lokal Myanmar, warga etnis Rohingya juga merasakan hal itu, terutama pada saat konflik komunal di Negara Bagian Arakan mengalami eskalasi.

(AUL)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Setiap Hari, SAS Habisi Delapan Anggota ISIS