Cerpen

Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus

Kamis, 06 September 2012 08:16 wib | -

Tentang Perempuan yang Bersulang Racun Tikus Ilustrasi (Gelar Agryano Soemantri/Okezone) KAU hanya perlu menangis dan selebihnya sesenggukan. Tidak perlu kau takut, dan jangan coba-coba untuk menggigiti kuku! Tidak di depan orang-orang itu. Katakan saja ide itu merupakan kesepakatan bersama, pekik sebuah suara yang membuat pipi Nurlida penuh dengan linangan air mata.
 
Ruang tanpa jendela itu sebenarnya cukup luas, tetapi terkesan sempit dengan keberadaan 10 orang menjejali setiap sudut ruangan. Walau AC telah dipasang pada suhu terendah, peluh yang berleleran di dahi Nurlida pun tidak bisa dicegah. Titik-titik air itu berlomba menuruni pipinya, hingga tak lagi kentara beda antara air keringat dengan air mata.
 
Sering mata basah itu melirik pintu yang tertutup sempurna dengan bayangan-bayangan kamera yang menyembul pada kisi-kisi ventilasi di atasnya. Para kuli tinta itu sepertinya tidak mau menyerah sebelum mendapat keterangan atas apa yang terjadi di dalam ruang penyidikan, dan jelas Nurlida tidak ingin memberi mereka sebuah berita pembunuhan.
 
Lebih-lebih bagi petugas-petugas berseragam cokelat, yang duduk begitu tegak mencatat keterangandari para saksi yang diundang, dan kebetulan Nurlida merupakan satu di antaranya.
 
“Di mana Anda antara pukul 02.00 dini hari sampai pukul 06.00 pagi tanggal 17 Juni kemarin?” Begitu selalu tanya petugas-petugas itu, kepada setiap saksi yang hadir memberikan ucapan selamat ulang tahun, pada korban.
 
Giliran Nurlida tiba beberapa belas menit kemudian. Petugas yang menanyainya bertampang seram, ditambah pula dengan kumisnya yang lebat menantang seolah ingin memperingatkan: Jika jawabanmu tidak memuaskan, tunggu saja pembalasan! Seiring kepala Nurlida membayangkan sebuah ilustrasi percakapan diikuti isyarat kepalan tangan di ujung ucapan.
 
Perempuan itu duduk tidak kalah kaku dengan petugas di hadapannya. Petugas berseragam cokelat yang berdeham-deham sebelum mengajukan pertanyaan. Sekali dua Nurlida bisa menghindari kecurigaannya dengan balutan air mata. Sengguk-sengguk menemaninya mengucap kata-kata. Hingga polisi sok pintar itu tidak berani menduga bahwa sebenarnya ia terbata-bata.
“S-s-sa-sa-say-saya … huhu … be-be-benar-benar ti-ti-tidak menyangka … huhu … jika Maya akan … huhuhu ….”
 
Sore itu berakhir tanpa sisa curiga dan prasangka. Dan siapa pula yang akan menduga bahwa sepulang dari sana Nurlida hendak pergi berpesta.
 
*****
Suara berkecipak kembali menyeruak dari kamar di dekat tangga. Namun, tidak ada satu pun orang di hotel itu yang akan mencuri dengar desahan-desahan panjang dari penghuninya. Senyap …!
 
Malam telah melewati puncak, tapi dua orang itu, lelaki dan perempuan, belum juga diserang kuap. Asap tipis rokok, yang terembus di tengah kesunyian yang kini menjarak sejengkal badan, makin menjadikan miring tubuh perempuan di sisi lain ranjang. Membiarkan garis punggungnya diisap bersama asap rokok yang dihela pelan.
Lamat-lamat di antara detak jarum jam pukul dua malam, perempuan itu berbisik perlahan.
 
“Kapan kau akan melamarku?”
“Bukankah tadi sudah kita bicarakan … tunggu hingga aku selesai kuliah semester depan,” jawab lelaki itu begitu tenang.
 
“Tidak mungkin aku menunggu selama itu,” kata perempuan tadi sambil membalikkan badan. Menghadap lelaki yang masih asyik mengisap rokok.
 
“Kau boleh tidak menunggu,” kata lelaki itu begitu mengembuskan asap rokok lagi.
“Apa maksudmu? Perutku makin hari makin membesar tidak mungkin lagi ditutupi hingga enam bulan ke depan. Kita harus segera melangsungkan pernikahan.”
 
“Hei, apa yang barusan kau katakan? Perut? Membesar? Apa maksudmu?” tanya lelaki itu mendadak gusar. Membuat nyalang matanya terpancar, mengerikan.
“Aku hamil. Aku mengandung anakmu, Win …,” kata perempuan itu dengan wajah terpaling, takut bersitatap.
 
Ruangan seketika senyap. Sekejap! Asap rokok yang membayang ikut menghilang seiring puntung yang disudut ke dasar asbak. Suara berikutnya yang terdengar berasal dari lelaki itu yang bangkit dari kasur. Bertelanjang ia menghambur pada celana panjangnya, yang tercampakkan di atas sofa. Lantas memakainya. “Kau mau ke mana?” rajuk perempuan itu ketakutan. Matanya menyiratkan kekecewaan melepas detik-detik yang terlewat dalam diam, sementara sang waktu terus berjalan.
 
Seketika tubuh telanjang itu menggelayut pada tangan lelaki yang berusaha melepaskan diri. Di antara pikuk yang terjadi dalam kamar tidur itu, hanya satu yang perlu diketahui; otot perut perempuan yang terlihat buncit itu tidaklah kendur. “Lepaskan! Dasar perempuan edan! Mana mungkin kau hamil, padahal setiap kali kita melakukannya selalu menggunakan pengaman!”
“Tetapi tidak di waktu-wak …. Ah!”
 
Dan aksi saling melepas-memegang itu berakhir dengan tubuh yang terjerembab di atas ranjang. Disusul debum dari arah pintu depan. Disusul derum motor yang menggiring turunnya hujan di mata seorang perempuan yang ditinggalkan.
 
*****
“Dasar bodoh! Sudah sering kuingatkan jangan lagi main perempuan …,” sesaat kerongkonganku tercekat oleh jemari yang menggenggam erat.
“Jangan mulai lagi. Kali ini apa yang harus kulakukan?” tanyanya sebelum mengendurkan pegangan.
 
Terbatuk diriku sesaat, sebelum kembali terhenyak mendapati Erwin kembali melingkarkan tangan dari arah belakang. Namun, tidak untuk mencekikku …. “Bantu aku, bukankah kau pernah berjanji akan selalu berada di sisiku?”
 
Sudut bibir lelaki itu membuka-menutup di telingaku. Membuatku sedikit pusing lantaran aku tidak suka bau rokok yang terbit dari situ. Namun, lelaki itu seolah tak mau tahu dan malah mendekatkan bibirnya menelusuri pipiku, hingga bibir kami bertemu.
Dan malam yang tak lagi senyap menyalakan lampu di dalam kepalaku.
 
***
Nurlida masih menguntitku, bahkan ia rela berdiri menunggu di kejauhan sambil memandang ke arah pintu toilet mal. Sekali dua kali aku coba menghindarinya, tapi apa daya perempuan itu lebih gesit dari yang kukira. Sungguh mengecoh kerudung yang membungkus rambutnya. Memang berbeda gelagat perempuan, yang kepalanya hanya berisikan uang.
 
Di tempat parkir yang sepi itu aku berhasil menyudutkannya. Namun, entah mengapa malah diriku yang merasa terancam oleh keberadaannya. “Aku sedang butuh uang,” katanya singkat.
 
Dahiku berkerut, alisku bertaut. Menatap Nurlida yang tampak seperti perempuan kesurupan. “Uang? Uang apa lagi?” tanyaku berang. “Aku mau sepuluh juta, sekarang juga. Atau…,” perempuan itu terdiam, tidak meneruskan.
“Atau apa?” bentakku.
 
Perempuan itu menatap sinis. Matanya yang nyalang menambah sangar seringaian di bibirnya. Ada sesuatu darinya yang menguar ke udara. Membuat sesak!
“Atau … kubongkar permainan busuk kalian pada polisi,” bisiknya perlahan.
 
Kesunyian, makin meradang. Membayang, menyesakkan dada! Jarak antara diriku dan dirinya semakin tidak ada. Sehingga mudah bibirku membeku di sebelah telinganya, yang tertutup jilbab biru muda.
 
“Katakan saja! Ceritakan bahwa kaulah yang selama ini mencekokinya dengan pil penenang. Setiap hari …. Dan akibatnya jalang itu keguguran. Ah, jangan lupa juga menceritakan bahwa selama ini … kaulah yang membisiki telinga jalang itu dengan gosip-gosip murahan tentang perselingkuhan Erwin dengan perempuan lain.
 
“O, sungguh diriku tidak sabar mendapati polisi-polisi itu tertawa girang saat mendengar bualan dari seorang pemadat, yang beberapa hari lalu terlihat membeli sebotol racun tikus… sebagai perangkap.”
 
“Tapi semua itu idemu, Jas…”
“Dan kau yang mewujudkan!” selaku penuh senyum kemenangan.
Kesunyian itu belum juga terpecahkan, bahkan ketika Nurlida kutinggalkan.
 
****
Maya terbangun diiringi jeritan panjang. Keterkejutan, yang sama-sama membayang di wajah sekalian orang yang bertumpu di sisi ranjang.
Nyala lilin yang bergoyang mencabik-cabik diam.
“Kau kenapa May, mimpi buruk ya?” tanya Nurlida mendekat. “Jas, tolong pegang kue ini.”
 
Nurlida mengambil tisu dan mengelap peluh yang membanjir di dahi Maya. Sementara sisa-sisa manusia di sisi ranjang sekadar menjauh, memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas.
 
Maya mengalihkan keterkejutannya pada seorang lelaki, pada diriku, yang berdiri canggung dengan kue tart di tangan. Kue tart berhiaskan krim berbentuk mawar putih bertuliskan ucapan selamat ulang tahun.
 
Hari itu, tengah malam itu dirinya makin bertambah tua. Hampir Maya lupa hari kelahirannya. Dan ketika segalanya emosi dirasa bisa diendapkannya, teman lelaki dan perempuan dalam ruangan itu bergantian menyalaminya.
 
Ritual tiup lilin diiringi lagu yang riuh dari sekalian orang. Keriuhan yang kembali menghadirkan senyuman di bibir merah Maya. Bibir yang lamat-lamat makin sering tersungging bahagia, bahkan tertawa-tawa saat perang kue tart dengan teman-temannya. Nurlida yang berlepotan wajahnya tiba-tiba mendekapnya dengan tanya, “Duh, senengnya yang lagi berulang tahun. Sayang ya Mas Erwinnya lagi keluar kota!?”
 
Bagai disambar petir Maya mendengar lawakan Nurlida. Menghadirkan pasi bersarang di wajahnya. Lantaran diingatkan pada lelaki yang memutuskan hubungan. Dan tanpa disadarinya, ada banyak pasang mata mengerling isyarat kedipan mata Nurlida.
 
“Aku telepon ya,” kata Nurlida tiba-tiba.
Nomor itu sudah tersambung, bahkan sebelum Maya menyuarakan penolakannya.
“Halo… halo? Win?”
 
Nurlida menatap Maya penuh tanya, sebelum mengecek layar ponsel, memastikan teleponnya benar-benar tersambung. Dan lantaran tidak jelas apa yang bersuara di sisi lain nomor yang ditujunya, dinyalakannyalah pengeras suara. Terdengar jelas, desah napas, dua desah napas sebelum ada yang berkata, “Nur, ngapain kamu telepon malam-malam?”
 
***
“Wah, kamu lihat tadi wajah si Maya… sampai pucat pasi gitu. Lucu ya?” celetukku, yang disambut kekeh geli teman-temannya sesaat setelah meninggalkan kamar kos Maya.
Malam yang bising, benar-benar bising sampai tidak ada lagi yang bertanya mengapa sunyi mengiringi terbitnya sang surya. Dan mengapa pula sunyi menyimpan tubuh perempuan di kamar mandi, dengan mulut berbusa. (*)
 
Blitar, 23 Juni 2012 3:31 AM
 
Oleh W. N. Rahman
 
Penulis bertempat tinggal di Blitar dan Surabaya. Mahasiswa Pendidikan Dokter Hewan Universitas Airlangga, Surabaya ini aktif di kelompok sastra Writing Revolution. Cerpennya dimuat dalam antologi bersama, Bulan Kebabian (2011), Cinta Pertama (2012), dan Serahim Nira (2012).


(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
 
Biodata Penulis
 
Nama Lengkap          : Widya Nurrohman
Alamat Lengkap         : Desa Tlogo 3 RT. 04/RW. 01, Kecamatan Kanigoro, Blitar
                                         Jawa Timur 66171
Pendidikan                   : S1 Pendidikan Dokter Hewan
Asal PT                         : Universitas Airlangga
Email                            : nurrohman.widya@yahoo.co.id
Telepon                        : 085 233 316 761
(//ful)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »