Kejagung Proses Pemecatan Cirus Sinaga

|

Foto: (dok okezone)

Kejagung Proses Pemecatan Cirus Sinaga
JAKARTA - Kejaksaan Agung (Kejagung) saat ini tengah memproses sanksi berat berupa pemecatan terhadap jaksa senior Cirus Sinaga. Sanksi itu dijatuhkan menyusul putusan kasasi Cirus yang telah diterima Kejagung.

"Salah satu tembusannya Pak Jaksa Agung Muda Pengawasan (Jamwas) Marwan Effendy. Pak Jamwas sudah membuat pendapat dalam bentuk nodis (nota dinas) berupa usulan dan pendapat kepada Jaksa Agung," ujar Kapuspenkum Kejagung M Adi Toegarisman di Jakarta, Kamis (6/9/2012).

Dijelaskannya, sanksi pemecatan ini merujuk pada PP Nomor 20 Tahun 2008 tentang tata cara pemberhentian tidak hormat hak jabatan fungsional Jaksa yang terkena pemberhentian telah diatur sesuai Pasal 8 yang berbunyi: "Jaksa yang diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatannya berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dengan sendirinya diberhentikan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS)".
 
"Jadi Pak Jamwas (Marwan Effendy) diberi tenggat waktu satu bulan untuk memproses petikan putusan sesuai Pasal 6. Tapi kami Kejaksaan, begitu pagi tadi menerima tembusan laporan berupa petikan putusan dan hari ini akan kami proses," urainya.

Seperti diketahui, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor yang dipimpin Albertina Ho beberapa waktu lalu sebelumnya telah menjatuhkan terdakwa kasus tindak pidana korupsi dalam penghilangan salah satu pasal untuk terpidana kasus mafia pajak Gayus Tambunan selama lima tahun penjara denda Rp150 juta subsider tiga bulan kurungan.

Cirus didakwa melanggar Pasal 21 UU Pemberantasan Tipikor tentang perbuatan merintangi atau menghalangi penyidikan dan penuntutan kasus korupsi.

Majelis Hakim MA juga telah menolak kasasi yang diajukan Cirus, sehingga tetap menghukumnya selama lima tahun penjara dan denda Rp150 juta, subsidair tiga bulan kurungan.

Cirus terbukti dengan sengaja tidak mencantumkan pasal korupsi dalam rencana penuntutan terhadap tersangka Gayus Halomoan Tambunan dengan berkas perkara nomor Pol. BP/41/X/2009/Dit.II Eksus tanggal 2 Oktober 2009. Kasus Gayus pun saat itu kemudian diarahkan kepada tindak pidana penggelapan uang, bukan korupsi.

Cirus selaku jaksa peneliti dan penuntut telah mencegah atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penuntutan perkara tindak pidana korupsi atas nama tersangka Gayus Tambunan berkas perkara nomor Pol. BP/41/X/2009/Dit.II Eksus tanggal 2 Oktober 2009. Perbuatan itu dilakukan Cirus dengan sengaja tidak menyertakan pendapatnya mengenai tindak pidana korupsi dalam kasus Gayus.

Dalam sejumlah kesaksian untuk Cirus, saksi-saksi dari Polri mengaku tidak pernah menambahkan pasal penggelapan dalam berkas Gayus. Penyidik Bareskrim nonaktif yang juga menjadi pesakitan, Komisaris Polisi (Kompol) Arafat Enanie sempat memprotes penambahan pasal penggelapan yang kemudian direvisi Kejaksaan.

Bekas penyidik Gayus Tambunan ini juga menyebut Cirus pernah memalsukan tanda tangan atasannya, Direktur Pra Penuntutan Jampidum Poltak Manullang. Perintah Cirus ini, kata Arafat disampaikan kepada jaksa penilai lainnya, Fadil Regan. Hal tersebut menurut Arafat, dilakukan Cirus untuk mengesahkan perubahan berkas perkara lengkap (P21) sesuai yang diminta dirinya.

Vonis penjara terhadap Cirus ini menambah catatan jaksa yang masuk bui. Terakhir, Jaksa Ester Thanak yang divonis satu tahun penjara. Ester terbukti terlibat dalam kasus penjualan barang bukti berupa ekstasi sebanyak 343 butir di Polsek Pademangan pada 2009 lalu.
(crl)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Rakyat Akan Tagih Janji Trisakti Jokowi