Bambang Nilai Densus Terlalu Reaktif Tanggapi Teroris

Senin, 10 September 2012 06:24 wib | Susi Fatimah - Okezone

Bambang Nilai Densus Terlalu Reaktif Tanggapi Teroris Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone) JAKARTA - Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Golkar Bambang Soesatyo menilai ledakan bom di Jalan Nusantara RT 04 RW 13, Kelurahan Beji, Depok, pada Sabtu, 8 September 2012 malam menjadi bukti kegagalan pemerintah mengeliminasi kelompok-kelompok teroris.
 
Bambang mengatakan kelompok atau jaringan teroris di Depok sudah lama teridentifikasi. Ledakan bom tadi malam, menurutnya hanya bentuk pembuktikan bahwa kelompok teroris Depok masih eksis.
 
"Kalau kelompok itu masih eksis, itu karena pemerintah dan aparat keamanan secara tidak langsung telah memberi toleransi berlebih kepada mereka," ujar Bambang dalam pesan singkat yang diterima Okezone, Minggu (9/9/2012).
 
Bambang menegaskan demi stabilitas kehidupan berbangsa, toleransi sekecil apapun terhadap terorisme lokal harus diakhiri. Terlebih Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) maupun para pengamat terorisme telah berulangkali mengindikasikan adanya jaringan atau kelompok-kelompok baru yang bernafsu melancarkan aksi teror di negara ini.
 
"Dilaporkan bahwa hingga saat ini, ada sembilan kelompok teroris. Kelompok-kelompok itu membentuk jaringan, serta memiliki dana untuk membeli senjata, bahan peledak dan membiayai kegiatan lainnya," paparnya.
 
Selain itu, sambung Bambang, para teroris juga diketahui menggelar latihan dan menjadikan Sulawesi dan wilayah Poso sebagai basis pelatihan kerap dilakukan.
 
"Pesertanya berasal dari sejumlah daerah. Peserta yang kembali ke daerah asal langsung membentuk sel-sel baru," tuturnya.
 
Lebih lanjut Bambang mengatakan data atau informasi intelijen ini idealnya diterjemahkan sebagai ancaman. Jika pemerintah konsisten melindungi rakyat dan menjaga stabilitas nasional, maka ancaman itu harus dieliminasi.
 
Bambang juga mengkritik kinerja Densus 88 yang selama ini terlihat reaktif dalam menanggapi serangan demi serangan yang dilakukan oleh para kelompok teroris. Hal itu terlihat saat kelompok teroris sebanyak tiga kali menyerang pos polisi di Solo, tak berselang Densus membalasnya dengan melakukan penangkapan hingga menewaskan terduga teroris dan satu anggota Densus sendiri.
 
"Penyikapan terhadap eksistensi jaringan terorisme di Indonesia tidak bisa terus menerus reaktif. Manfaatkan segera data intelijen untuk mengeliminasi ancaman terorisme di negara ini," tutupnya.
(ydh)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »