Unhas Kelola Pusat Unggulan Rumput Laut

Image: Corbis

Unhas Kelola Pusat Unggulan Rumput Laut
MAKASSAR - Pusat Unggulan Rumput Laut (PURL) sebagai program kerjasama antara Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan beberapa lembaga di Sulawesi mendapat verifikasi oleh Tim Verifikasi Pusat Unggulan (PU) Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).
 
PURL selain menjadi salah satu nominator dalam PU Iptek, juga merupakan salah satu pusat unggulan yang dikembangkan pada koridor Sulawesi. Saat ini kinerjanya telah mencapai tahapan re-evaluasi pada seleksi insentif pengembangan PU Iptek di Indonesia.
 
PU Iptek ialah organisasi yang berdiri sendiri maupun berkolaborasi dengan organisasi lainnya (konsorsium). Pendiriannya dipergunakan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan riset bertaraf nasional dan internasional pada bidang spesifik secara multidisiplin dan interdisiplin dengan standar hasil yang sangat tinggi serta relevan dengan kebutuhan pengguna Iptek.
 
Pengembangan PU Iptek menjadi salah satu inisiatif strategi dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025. Inisiatif tersebut sesuai dengan Peraturan Presiden No. 32 Tahun 2011 mengenai pengembangan Center of Excellence di setiap koridor ekonomi yang didorong melalui pengembangan SDM dan Iptek yang sesuai untuk peningkatan daya saing.

PURL dengan nama resmi Pusat Riset dan Pengembangan Rumput Laut (PRPRL) atau Centre For Seaweed Research and Development (CSRD) untuk koridor Sulawesi telah menempatkan Unhas sebagai ketua pengaju dari pusat unggulan ini.
 
Pengajuan usulan pusat unggulan telah dicanangkan sejak 11 Mei 2012 lalu melalui kerjasama dengan tiga lembaga, yakni Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Provinsi Sulawesi Selatan, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Payau (BPPBAP) Kabupaten Maros, dan Universitas Hasanuddin (Unhas). Setelah melewati tahap verifikasi dan penerimaan usul dan saran, satuan tugas (Task Force) yang dibentuk Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Unhas ini menggandeng lembaga lain yang sama-sama memiliki kompetensi dalam bidang tersebut untuk bergabung menjadi Konsorsium PURL.
 
Konsorsium PURL diisi dua unsur dari Unhas, masing-masing FIKP dan Fakultas Farmasi, Balitbangda Provinsi Sulsel, BPPBAP Maros, Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Kabupaten Takalar, Politeknik Pertanian Negeri Kabupaten Pangkep, Politeknik Ujung Pandang, Pusat Penelitian dan Pengembangan Laut, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil serta Asosiasi Petani dan Pengusaha Rumput Laut Indonesia (ASPPERLI).
 
PRPRL untuk koridor Sulawesi dikembangkan dengan mengacu pada Sulawesi sendiri sebagai daerah penghasil rumput laut terbesar di Indonesia. Di Sulsel saja, produksi rumput laut sudah mencapai 1.517.690 ton.
 
Selain itu, didasarkan pada tema pembangunan koridor ekonomi pada koridor Sulawesi sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, migas, dan pertambangan nasional. Rumput laut merupakan produk unggulan yang berkaitan dengan kegiatan di sektor perikanan.
 
Menurut Ketua Task Force PRPRL, Gunarto Latama, hingga saat ini PU tersebut masih dalam tahapan seleksi re-evaluasi. Untuk lolos seleksi menjadi PU Iptek atau PU Iptek dalam Pembinaan, PRPRL ini telah terlebih dahulu menyisihkan 23 PU Iptek yang mendaftar dan saat ini telah memasuki tahapan seleksi 10 besar PU.
 
"Saya optimistis PU ini nantinya dapat lolos seleksi untuk menjadi salah satu dari delapan PU Iptek yang akan diterima," ungkap Gunarto, Rabu (12/9/2012).
 
Diuraikan, kegiatan yang akan dilakukan oleh PU ini nantinya berhubungan dengan penelitian dari hulu sampai hilir, mulai dari budidaya hingga pembuatan bahan-bahan aktif dan menghasilkan bahan yang siap pakai. Sedangkan hasilnya berupa produk atau teknologi dari bidang kajian masing-masing konsorsium.
 
"Hasil dari pusat unggulan ini nantinya, setiap lembaga yang menjadi anggota konsorsium akan bekerja dan menghasilkan produk atau teknologi yang berhubungan dengan bidang kajian mereka masing-masing," ucap Gunarto.
 
Ada enam bidang yang akan menjadi bidang kajian pusat unggulan ini, yaitu produksi bibit unggul, teknologi pembesaran, penanggulangan hama penyakit, manajemen dan lingkungan, pemanfaatan, pascapanen dan pengolahan serta aspek sosial dan ekonomi.
 
Menyoal dana operasional untuk pusat unggulan ini Gunarto menerangkan nantinya akan mendapat suntikan dana dari Kementerian Riset dan Teknologi RI (Kemenristek) per tahun. "Dana per tahun dari Kemenristek dalam bentuk penelitian, pembinaan SDM, seperti pelatihan ke luar negeri, dan lain-lain," tandas Gunarto. (rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Motif Bunuh Diri Kades dan Keluarga Mulai Terkuak