Kepala BNP2TKI Dicecar Anggota Dewan

|

Ilustrasi, TKI saat pulang dari Arab (Foto: Dok Okezone)

Kepala BNP2TKI Dicecar Anggota Dewan

JAKARTA- Sejumlah anggota Komisi IX DPR mempertanyakan kinerja Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang kerap terjadi di terminal IV Bandara Soekarno-Hatta.

Kepala BNP2TKI, Jumhur Hidayat, mengaku, tidak memiliki kemampuan membereskannya, sekaligus membantah apabila dirinya, atau anggota keluarganya, terlibat dalam 'permainan' di terminal itu.

Hal itu mengemuka saat BNP2TKI melaksanakan rapat kerja dengan Komisi IX DPR membidangi masalah ketenagakerjaan dan kesehatan di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (13/9/2012).

Di dalam rapat, anggota Komisi IX DPR dari PKS, Anshori Siregar, mengatakan, banyak sekali TKI yang melapor kepada mereka soal seramnya berurusan dengan Terminal IV itu.

Yang terbaru, saat mereka kunjungan kerja ke Argentina, beberapa waktu lalu, 150 pelaut di sana takut pulang ke Indonesia karena takut diperas dan 'dikerjai' di terminal IV. Pendapat sama juga disampaikan oleh 500-an pelaut Indonesia dari Uruguay, dan yang lainnya dari mereka yang bekerja di Arab.

Dia mendorong Jumhur untuk melakukan inspeksi mendadak ke terminal itu untuk bisa mendapat gambaran utuh terkait apa yang dikeluhkan oleh para TKI.

"Siapa sih di sana itu? Ngapain saja? Kalau kita bilang pelayanan bagus, kok bisa ada opini menakutkan seperti itu? Ini perlu kita atasi bersama," kata Anshori.

Pendapat senada disampaikan oleh anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka, yang menyatakan pihaknya banyak menerima laporan soal permainan di terminal itu.

Dari masalah layanan travel terlalu mahal, penukaran uang valas yang dipaksa dengan harga murah, penjualan pulsa yang harganya dimark-up besar-besaran, dan lain-lain.

"Ini bukan hanya sekadar masalah TKI dipaksa harus melewati terminal itu, lalu marah karena tak terima. Selain itu ada indikasi pelecehan seksual yang terjadi," kata Rieke.

Rieke juga mempermasalahkan soal keputusan untuk menutup terminal itu dari akses publik. Dia mengkritik pernyataan BNP2TKI yang menyatakan penutupan itu dilakukan untuk mencegah para TKI dari aksi premanisme di bandara.

"Apa penutupan terminal dari akses publik menyelesaikan masalah premanisme? Harusnya premanisme-nya yang diberantas, bukan TKI dijauhkan dari jangkauan publik," tandas dia.

Menjawab itu, Jumhur mengaku bahwa permasalahan yang disebutkan itu memang masih ada dan muncul. Dia juga mengakui bahwa banyak TKI yang emosional ketika dipaksa untuk pulang melewati terminal itu.

Dia juga membela diri dengan menyatakan bahwa kebijakan untuk membuat terminal IV itu dibuat oleh Kemenakertrans.

"Karena ini kebijakan menteri, tak mungkin kami merubah. Jadi itu wilayah Kemenakertrans," kata Jumhur.

Dia juga menyatakan dirinya setuju apabila terminal itu ditutup sekalian daripada menjadi masalah.

Sementara ketika ditanyai wartawan soal kemungkinan dirinya sengaja membiarkan masalah di terminal IV TKI berlarut-larut karena ada kepentingan pribadi, Jumhur pun membantahnya dan menyatakan tidak benar ada anggota keluarganya yang terlibat dalam 'pemerasan' TKI di sana.

"Wah itu tak benar," kata Jumhur.

Seperti dimuat dalam akun twitter @korbanbnp2tki, diduga bahwa keterlibatan Jumhur dalam kejahatan di Terminal IV diwakili oleh kerabatnya yang bernama 'Agung'.

Mengenai isi twit itu, Jumhur mengatakan bahwa hal demikian adalah sampah bagi dirinya. Dia juga membantah bila Terminal IV dikomersialkan, dan dirinya terlibat.

"Kalau saya punya kepentingan (terhadap terminal IV), saya pasti tak mendukung pembubaran terminal itu. Itu saja logikanya," tepis Jumhur.

(kem)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Antre Kartu Sakti Jokowi, Nenek Sempoyongan