"Seumur hidup ini takkan bisa dilupakan tragedi gempa 7,6 Skala Ritcher pada 30 September 2009 pukul 17.15 WIB," kata Nurdin Thomas (74) korban gempa 30 September 2009 yang hadir dalam peringatan detik-detik gempa 30 September di monumen peringatan korban gempa di jalan Gereja Padang, Sumatera Barat.
Rabu, 30 September 2009 pukul 17.14 WIB, Nurdin Thomas yang tinggal di jalan kampong sebelah 9 nomor 8 kelurahan Kampung Pondok Kecamatan Padang Barat Kota Padang, melangkah keluar rumah hendak memberikan makanan anjingya. Satu menit berjalan hendak keluar mendadak suara gemuruh dan goncangan keras mengejutkankanya.
Mangkok untuk makanan anjing terjatuh dari tangannya. Semakin lama guncangan itu semakin keras. Terdengar barang-barang berjatuhan ke lantai suara gemuruh dan pecah belah peralatan semakin lama semakin kuat.
”Kakiku saat itu tidak bisa lagi melangkah kepalaku sudah pusing saya langsung tejatuh ke lantai rumah,” katanya pada Okezone disela-sela detik peringatan gempa 30 September.
Saat ia tergeletak, terdengar suara keras dari lantai dua rumahnya ternyata rumahnya ambruk. ”Saya tidak tahu lagi, karena saya pingsan saat itu, yang jelas ketika saya sadar suasana tampak gelap badan tidak bisa duduk hanya sekita 20 centimeter ada benda besar di dadaku,” katanya.
Dia semakin sadar, ternyata bangunan rumahnya menimpanya tapi keajaiban terjadi dinding rumahnya tidak sampai menindih kaki dan tubuhnya. Nafas semakin sesak, dalam keadaan terlentang ia menggeser tubuhnya mencari celah-celah kosong. ”Semakin lama perut saya sangat lapar rasa haus juga tidak bisa ditahan, meski demikian namun karena saya menggeser tubuh dengan punggung akhirnya punggung saya luka-luka, namun suasana masih gelap,” ungkapnya.
Entah berapa lama Nurdin berjuang mencari celah untuk keluar, terdengar lagi suara gemuruh yang disangkanya suara gempa lagi ternyata suara gemuruh itu adalah mesin ekskavator yang menggali puing-puing bangunan rumahnnya. ”Dari dalam saya baru melihat sinar masuk di lorong reruntuhan rumah saya, udara masuk ke lorong gelap itu dan saya bisa bernapa lega, meski masih berada di bawa puing-puing bangunan,” tuturnya.
Saat itu Nurdin tak bisa keluar karena bangunan rumah berlantai tiga sebelah rumahnya ikut menindih rumah Nurdin. Ia terus berjuang akhirnya bisa melihat jelas diluar namun masih belum bisa bebas. ”Saat itu saya terdengar suara anak saya (Heri Thomas) memanggilku, saya terperangkap bangunan pagar rumah saya, tim relawan mencoba membongkar pagar rumah akhirnya saya langsung dilarikan ke rumah sakit, kondisi saya lemas saat itu,” tuturnya.
Setelah mendengar cerita dari orang yang menyelamatkannya ternyata ia terperangkap dua malam satu hari. Saat kejadian gempa itu mereka ada empat orang tiga orang iparnya sudah lari keluar rumah ia sendiri yang terperangkap. ”Kini saya datang ke monumen ini karena saya mengenang kisah tragedi itu yang tidak bisa dilupakan, saya hanya bisa bersyukur kepada Tuhan karena saya selamat,” katanya.
Gempa 30 September 2009 telah menelan korban 1.200 orang tewas, 172 ribu bangunan rusak, dan melukai ribuan orang. Untuk di kota Padang saja korban mencapai 383 jiwa.
(Stefanus Yugo Hindarto)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.