Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Dilanda Wabah Muntaber, 4 Warga Mentawai Tewas

Rus Akbar , Jurnalis-Minggu, 14 Oktober 2012 |20:01 WIB
Dilanda Wabah Muntaber, 4 Warga Mentawai Tewas
A
A
A

PADANG – Korban wabah penyakit muntaber sejak 20 September lalu di Mentawai terus bertambah. Pekan lalu, lalu dua anak tewas, yakni perempuan berusia 8 tahun di Dusun Muntei dan anak usia 12 tahun di Bekkeiluk di Desa Muntei ditambah seorang balita usia 3 tahun berlokasi di Buttui dan perempuan usia 45 tahun di Dusun Ugai Desa Madobak, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
 
Kepala Puskesmas Muara Siberut Tony Ruslim mengatakan, pasien yang meninggal di Dusun Muntei sudah mendapat perawatan di puskesmas, namun karena kondisinya sudah kritis saat dibawa, nyawanya tak bisa tertolong.
 
“Kita sudah coba dengan segala kemampuan dan daya yang kita miliki namun karena kondisi pasien sudah sangat parah saat keluarganya bawa ke puskesmas, akhirnya tak tertolong,” ujarnya, Minggu (14/10/2012).
 
Tony mengatakan, warga Muntei yang terkena muntaber berjumlah 28 orang, semuanya telah mendapatkan pertolongan baik melalui Poliklinik Desa (Polindes) maupun yang langsung berobat ke Puskesmas.
 
Sementara di Desa Madobak, kata dokter Tony  penyakit ini mulai mewabah selang seminggu setelah Muntei, data terakhir yang didapat Puskesmas menyebutkan penyakit ini menewaskan 2 orang pada pertengahan Oktober.
 
“Saat ini enam orang diopname di Puskesmas, selebihnya rawat jalan, tapi kondisinya sudah mualai membaik,” jelasnya.
 
Pihaknya juga telah mendapat tambahan obat dari Dinas Kesehatan Mentawai sejak laporan mewabahnya penyakit itu. “Semua tenaga kesehatan yang ada telah disiapkan di masing-masing Polindes, obat-obatan pun sudah disuplai,” katanya.
 
Menurut Tony, dugaan sementara penyebab penyakit ini karena masyarakat mengkonsumsi air yang kurang bersih. “Dari kebiasaan masyarakat, air yang dikonsumsi diambil di sungai, kemungkinan bakteri itu berasal dari sana,” jelasnya.
 
Namun ia belum memastikan jenis bakteri apa yang mengkontaminasi air minum warga tersebut karena pihaknya belum mendapat informasi dari laboratorium di padang.  “Kalau umumnya sih, bakteri penyebabnya Eschericia coli namun pastinya kita tunggu saja hasil lab,” jelasnya.
 
Untuk mencegah penderita muntaber bertambah parah, Tony menganjurkan agar penderita  diberi minuman untuk mengganti cairan yang keluar dari tubuhnya. Katanya, kalau tak ada oralit, cairan pengganti dari larutan gula dan garam bisa diberikan kepada penderita. “Cairan yang keluar membuat pasien dehidrasi, itulah penyebab kenapa pasien penderita ini cepat meninggal,” ujarnya.
 
Selain di Desa Muntei, ada laporan di Desa Saliguma, satu warga yang terkena penyakit sejenis. Saat ini menurut Tony, Puskesmas mampu mengatasi pengobatan penderita muntaber itu. Pasien yang dirawat di puskesmas sudah dipulangkan karena kondisinya sudah membaik.
 
Kepala Desa Muntei Tulut Ogok mengatakan, untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, pihaknya telah menetapkan empat titik penyelamatan darurat. Titik itu, kata Tulut untuk mempermudah koordinasi jika ada warga yang terkena penyakit pada malam hari.
 
“Dengan adanya titik itu, proses penyelamatan penderita akan lebih gampang dilakukan karena koordinasinya lebih cepat,” ujarnya.
 
Ia mengatakan, proses kematian warga akibat penyakit muntaber yang menyerang anak-anak dan orang dewasa ini berlangsung cepat. “Beberapa kasus hanya sehari, karena tak mendapat pertolongan penderita langsung meninggal, apalagi penderitanya anak-anak,” jelasnya.

(Muhammad Saifullah )

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement