Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

12 Orang Meninggal Akibat Muntaber di Mentawai

Rus Akbar , Jurnalis-Selasa, 23 Oktober 2012 |12:19 WIB
12 Orang Meninggal Akibat Muntaber di Mentawai
A
A
A

PADANG - Sejak 20 September 2012 sampai hari ini korban muntaber di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, terus berjatuhan. Saat ini 12 orang, baik anak-anak maupun dewasa, meninggal dunia. Mereka berasal dari dua desa di Kecamatan Siberut Selatan.
 
”Wabah ini muncul dari Desa Muntei. Di daerah ini telah meninggal empat orang kemudian muntaber mewabah ke Desa Madobak, khususnya Dusun Ugai dan Buttui, di lokasi ini sejak 10 Oktober lalu sampai hari ini telah meninggal delapan orang,” kata Kepala Puskemas Muara Siberut, Tony Ruslim, kepada Okezone, Selasa (23/10/2012).
 
Menurut Tony, delapan orang dari dinas kesehatan telah diturunkan ke Rogdok, Madobak, dan Ugai untuk memberikan pengobatan kepada warga yang terserang muntaber. ”Tadi barusan ada yang turun sebanyak tiga orang tenaga medis, laporan dari tim medis kondisi saat ini penyakit sudah berangsur pulih dan jumlah penderita sudah berkurang. Tim yang turun ini mengambil peralatan dan obat-obatan,” ungkapnya.
 
Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Mentawai, Warta, mengatakan, pihaknya telah menetapkan kejadian luar biasa (KLB), dan telah menyurati Kepala Puskemas dan Camat serta pemerintah setempat untuk memberikan penanggulangan wabah ini.
 
”Hasil penelitian tim di lapangan penyebab wabah ini akibat warga kurang menjaga kebersihan, terutama air minum. Air yang mereka konsumsi banyak mengandung bakteri dan jumlahnya sangat banyak, bakteri e-coli,” terangnya.
 
Bakteri itu berasal dari kotoran manusia dan hewan. Dia juga meminta warga untuk membangun MCK seperti yang disosialisasikan sebelumnya. Bila tidak, wabah ini akan kembali terjadi.
 
Sekadar informasi, untuk menuju Ugai dari Muara Siberut, tenaga medis menggunakan speedboat atau perahu mesin pompong selama enam jam. Tidak ada jalan raya, yang ada hanya jalan setapak dan berlumpur melintas hutan belantara. Daerah ini tidak memiliki jaringan telefon baik selular maupun telefon umum. Satu-satunya cara harus turun ke pusat kecamatan untuk memberikan kabar.

(Risna Nur Rahayu)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement