Kronologi Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Malam Takbiran

|

Foto: Okezone

Kronologi Penyerangan Masjid Ahmadiyah di Malam Takbiran

BANDUNG - Massa dari Front Pembela Islam (FPI) Bandung Raya merusak kaca masjid jemaat Ahmadiyah, Masjid An Nasir, di Gang H Sapari, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Astana Anyar, Kamis 25 Oktober 2012 malam. Tidak ada korban dalam kejadian ini, namun sejumlah kaca dan pintu gerbang masjid yang berdiri 1948 ini, rusak.

 

Mubalig di Masjid An Nasir, Abdul Wahid Yora, menuturkan pada malam takbiran Idul Adha dirinya dan 10 pemuda berkumpul di dalam masjid untuk siap-siap melaksanakan ibadah salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban esok harinya. Di masjid dua lantai itu juga berkumpul ibu-ibu.

 

“Tiap tahun (Idul Adha) kita selalu berkumpul di masjid, beribadah, juga menjaga hewan kurban untuk besok disembelih,” tutur Yora, dalam konferensi persnya di Bandung, Jumat (26/10/2012).

 

Dia menambahkan, untuk kurban tahun ini, panitia kurban Masjid An Nasir akan menyembelih 5 ekor sapi dan 4 ekor kambing. Lanjut ustad muda berkacamata ini, sekira pukul 21.30 WIB tiba-tiba pihaknya kedatangan tamu tak diundang. Awalnya, tamu tersebut adalah seorang yang diduga petugas dari kepolisian. Namun 5 menit kemudian muncul sekira 10 orang berjubah putih. Mereka berteriak-teriak.

 

Kata dia, awalnya 10 orang berjubah putih itu meminta kepada Yora dan kawan-kawan supaya menurunkan foto pemimpinnya yang ditempel di salah satu dinding masjid. Namun permintaan ormas berjubah putih itu didiamkan saja. Namun jumlah ormas tersebut makin bertambah banyak dan berkerumun di sekitar Masjid An Nasir.

 

“Suasana di bawah (sekitar lantai satu masjid) makin tak kondusif, ada teriak-teriakan, lalu saya naik ke atas masjid karena di sana banyak ibu-ibu yangg perlu diamankan,” katanya.

 

Ketika Yora berada di lantai atas untuk menenangkan ibu-ibu yang berada di lantai atas masjid, dia dipanggil petugas yang diduga intel dari kepolisian. Petugas tersebut meminta Yora untuk datang ke Polsek Astana Anyar. Yora sempat menolak karena di masjid itu posisi dirinya hanya sebagai mubalig, bukan pengurus atau ketua. Namun intel tersebut bersikukuh memintanya untuk datang ke Polsek dengan alasan demi keamanan.

 

Maka pada pukul 22.00 WIB, Yora ditemani dua orang pemuda, Irfan dan Mujib, menuruti untuk datang ke Polsek. Yora menyebutkan, atas permintaan ormas petugas Polsek memintanya untuk membuat pernyataan tertulis bahwa pihaknya tidak akan melaksanakan salat Idul Adha dan kurban esok harinya. Alasan polisi meminta pernyataan tertulis tersebut menurut Yora juga demi keamanan.

 

“Tapi saya berusaha menolak karena itu kan ibadah, masa ibadah dilarang. Kami tiap tahun biasa melaksanakan salat id dan kurban,” ungkapnya.

 

Disebutkan, malah saat pertemuan pihak Yora dan kepolisian itulah ormas berjubah putih tersebut mendatangi kantor polisi. Mereka, tutur Yora, sempat melontarkan ancaman dan intimidasi agar Yora mau menandatangani surat pernyataan.

 

“Saya diam saja. Hingga pukul 24.00 WIB, tidak ada kesepakatan. Lalu kami dibawa ke Polrestabes Bandung. Di Polrestabes juga kami diminta membuat pernyataan untuk tidak melaksanaan salat Id dan kurban,” tuturnya.

 

Namun, dalam pertemuan itu Yora menegaskan bahwa salat Id dan kurban adalah ibadah yang tidak bisa dilarang. Menurutnya, di Indonesia tidak ada dasar hukumnya melarang orang beribadah. Tetapi polisi bersikukuh bahwa pelarangan tersebut demi keamanan. Sedangkan pihak ormas menyatakan pelarangan itu berdasarkan Peraturan Gubernur Jabar yang melarang aktivitas jemaat Ahmadiyah di Jabar.

 

Sekira pukul 02.00 WIB dini hari tadi, anggota ormas yang masih berkerumun di Polrestabes Bandung, dipulangkan. Namun Yora dan dua pemuda masih ditahan di Polrestabes Bandung, juga dengan alasan demi keamanan. “Kami baru bisa pulang jam 9 tadi pagi, itupun karena kami dijemput,” ceritanya.

 

Yora dan dua pemuda tersebut segera menuju Masjid An Nasir. Dia baru mengetahui pagi tadi bahwa ada pengrusakan terhadap masjid, yakni ruang tamu masjid beberapa kacanya pecah dan berantakan, gerbang masuk ke masjid juga rusak. Yora dan dua pemuda tadi pun tidak bisa melaksanakan salat id. “Tadi pagi saya tidak solat karena hingga jam 9 pagi masih di Polres, bagaimana mau solat id,” katanya.

(sus)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Dikabarkan Hilang, Helikopter Puma Mendarat Darurat