Cikal Bakal Mapala di Indonesia

|

Pendaki menjelajahi anak Gunung Krakatau. (Foto: dok. Okezone)

Cikal Bakal Mapala di Indonesia

JAKARTA - Selama ini, kegiatan kelompok mahasiswa pecinta alam (Mapala) identik dengan pendakian gunung, penjelajahan gua, dan berarung jeram di sungai. Sebenarnya, kelahiran Mapala di Tanah Air justru berbau politis.

Menurut Fajrul Iman Ibrahim dalam materi pelatihan Mahesa Unhas yang dilansir Scribd, Kamis (1/11/2012), sejarah kelompok pecinta alam kampus dimulai sekira 40 tahun lalu. Ketika itu, para aktivis mahasiswa terpaksa bungkam akibat dikeluarkannya SK 028/3/1978 yang membekukan kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa. Masa ini dikenal sebagai masa Normalisasi Kegiatan Kampus (NKK).

Organisasi Mapala pertama di kampus Tanah Air lahir di Universitas Indonesia (UI). Pada 8 November 1964, Soe Hok Gie melontarkan gagasan pembentukan organisasi Mapala di UI, terinspirasi oleh Ikatan Pecinta Alam Mandalawangi. Para anggota Mandalawangi, yakni masyarakat umum dan mahasiswa, harus melewati seleksi ketat terlebih dahulu. Namun, umur Mandalawangi tidak panjang, hanya dua tahun.

Fajrul memaparkan, gagasan Soe ini digarap serius. Akhirnya, pembentukan organisasi Mapala UI pun disepakati dengan nama Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (Impala). Oleh Pembantu Dekan III Fakultas Sastra UI bidang Mahalum, Drs. Bambang Soemadio dan Drs. Moendardjito yang ternyata menaruh minat terhadap organisasi tersebut, nama Impala disarankan untuk diganti karena dianggap terlalu borjuis. Drs. Moendardjito mengusulkan nama Mapala Prajna Paramita.   Selain merupakan singkatan dari mahasiswa pecinta alam, Mapala juga berarti berbuah atau berhasil.  Dan Prajna Paramita adalah dewi pengetahuan. Jadi, menurut Fajrul, penggunaan nama ini diharapkan dapat mendorong segala sesuatu yang dilaksanakan oleh anggota Mapala UI akan selalu berhasil berkat lindungan dewi pengetahuan.

"Ide pencetusan pada saat itu memang didasari dari faktor politis, selain dari hobi individual pengikutnya. Organisasi ini juga dimaksudkan untuk mewadahi para mahasiswa yang sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antarorganisasi," urai Fajrul.

Fajrul pun mengutip tulisan Soe Hok Gie dalam Bara Eka, 13 Maret 1966. Menurut Soe, Mapala mencoba membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur dan benar-benar mencintai alam, Tanah Air, rakyat dan almamaternya.

"Mereka adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan jendela-jendela mobil. Mereka percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan Tanah Air Indonesia secara menyeluruh, barulah seseorang dapat menjadi patriot-patriot yang baik," tulis Soe.

Menurut Fajrul, Mapala adalah organisasi beranggotakan para mahasiswa dengan kesamaan minat, kepedulian dan kecintaan dengan alams ekitar dan lingkungan hidup. Diinisiasi Mapala UI, para mahasiswa ini membuang energi mudanya dengan merambah alam mulai dari lautan sampai ke puncak gunung.

"Sejak itulah pecinta alam pun merambah tak hanya kampus, melainkan ke sekolah-sekolah, ke bilik-bilik rumah ibadah, sudut-sudut perkantoran, lorong-lorong atau kampung-kampung. Seakan-akan semua yang pernah menjejakkan kaki di puncak gunung sudah merasa sebagai pecinta alam," imbuhnya.

(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pasek Geram Banyak Loyalis Anas Dipecat