Nilai Wajar

|

Logo BEI. (Foto: Okezone)

Nilai Wajar

Nilai wajar (fair value) suatu saham adalah bagian dari menu sehari-hari dalam aktivitas di pasar modal. Investor publik seringkali mempertanyakan berapa nilai wajar saham tertentu, sementara kalangan analis juga sering menyodorkan nilai wajar saham tertentu yang sedang menjadi objek analisisnya. Masalah nilai wajar juga kerap menjadi buah bibir ketika ada emiten pendatang baru yang melakukan penawaran umum (go public).

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud nilai wajar dari suatu saham dan bagaimana menghitungnya? Perlu dipahami bahwa istilah “wajar” di sini menunjukkan sebuah hasil perhitungan dan asumsi yang bisa diterima oleh umum, sehingga hasil perhitungan itu juga dianggap objektif. Perlu dipahami pula bahwa nilai wajar ini tidak identik dengan nilai buku (book value).

Nilai wajar sebuah saham selalu menjadi acuan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi, yaitu apakah ia akan membeli, menjual, atau mempertahankan saham tertentu. Nilai wajar lebih berkaitan dengan masalah apakah harga saham tersebut di pasar sudah terlalu mahal (over value) atau masih murah (under value).

Harga saham dianggap mahal jika lebih besar dari nilai wajarnya.  Sebaliknya, saham dianggap murah jika harga pasar lebih rendah dari nilai wajarnya. Yang menjadi persoalan, bagaimana menentukan nilai wajar sebuah saham?

Di atas kertas, cukup banyak metode atau teori yang dipakai untuk menghitung nilai wajar suatu saham. Misalnya, perhitungan yang berkaitan dengan fundamental emiten seperti Book Value (BV), Price Earning Ratio (PER), Price Book Value (PBV), atau sejenisnya. Ada juga perhitungan nilai wajar dengan menggunakan formula temuan Benjamin Graham, Bapak Value Investing dan model Gordon Growth yang mengkaitkan nilai wajar dengan dividend pay out ratio.

Ada juga yang menghitung nilai pasar wajar saham dengan menggunakan PER absolut. Perhitungan PER absolut ini dikaitkan dengan risiko bisnis perusahaan dan risiko keuangan perusahaan, serta visibilitas pertumbuhan laba (earning visibility). Dengan memperhitungkan faktor risiko bisnis dan risiko keuangan, maka PER absolut tidak perlu lagi membandingkan PER suatu saham dengan PER rata-rata industri.

Dari sekian banyak teknik perhitungan yang ada, pendekatan  yang paling sering dipergunakan hingga kini adalah pendekatan fundamental seperti BV, PBV, dan PER. Untuk mencari nilai wajar suatu saham tinggal membuat perbandingan fundamental antara saham yang dinilai dengan rata-rata industri yang merupakan benchmark industri.

Ilustrasinya begini. Misalnya saham ABC memiliki BV sebesar Rp2.000 per saham, sedangkan harga di pasar adalah Rp4.500 per saham, maka PBV saham ABC adalah 2,25 kali BV. Pertanyaannya, apakah harga saham ABC yang sebesar Rp4.500 itu berada pada posisi over value atau under value? Di sinilah dibutuhkan nilai wajar saham ABC.

Untuk itu, perlu diketahui berapa nilai rata-rata yang menjadi benchmark industri. Jika PBV industri misalnya tiga kali BV, maka harga saham ABC tadi masih tergolong murah. Nilai wajar saham ABC dengan tiga kali BV seharusnya senilai Rp6.000. Jika harga saham ABC masih ditransaksikan 2,25 kali BV berarti saham tersebut masih tergolong murah dan masih layak dibeli.

Begitulah gambaran tentang nilai wajar saham. Tentu saja nilai wajar saham untuk masing-masing sektor berbeda satu dengan yang lain. Misalnya nilai wajar untuk sektor properti adalah 2,5 kali BV, sementara nilai wajar saham perbankan adalah 2,3 kali BV. Nah, dengan mengacu pada nilai rata-rata industri, akan dengan mudah diperoleh berapa nilai wajar sebuah saham.

Begitu pun jika yang dijadikan dasar perhitungan adalah PER, maka harus dibandingkan antara PER industri dan PER saham yang dinilai. Dari sana akan diketahui berapa nilai wajar dari saham tersebut. (Tim BEI)

(ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Musuh James Bond Bakal Gunakan Jaguar C-X75?