Tersangka Korupsi Alkes Kembali Sebut Nama Mantan Menkes

Siti Fadilah Supari (foto: Okezone)

Tersangka Korupsi Alkes Kembali Sebut Nama Mantan Menkes
JAKARTA - Terdakwa kasus korupsi Alat Kesehatan (Alkes) di Kementrian Kesehatan (Kemenkes) 2007, Rustam Syarifuddin Pakaya, membantah semua dakwaan yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).  
 
Dalam Pledoi yang dibacakannya, Rustam mengakui tidak pernah mengetahui adanya nota kesepahaman anatara PT Indofarma Global Medika sebagai pemenang lelang proyek dan PT Graha Ismaya terkait pengadaan Alkes.
 
"Kami tidak memperoleh informasi keterlambatan komponen Alkes," kata Rustam, dalam pembacaan pledoi berjudul 'Sebuah Ironi Mengaharumkan Nama Bangsa di Dunia Internasional Presiden SBY Dapat Penghargaan PBB Sampai Akhirnya Saya Masuk Bui', di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Selasa (13/11/2012).
 
Selain itu, anak buah mantan Menkes Siti Fadila Supari, juga membantah menerima pinjaman uang berupa Mandiri Travel Cheque (MTC) senilai Rp4,9 miliar dari Direktur Utama PT Graha Ismaya, Masrizal Achmad Syarief. Mengenai pertemuannya dengan Masrizal yang diperkuat keterangan saksi, kata dia, pertemuan tersebut sudah terjadi pada Tahun 2008 tanpa undangan dan dia tidak pernah meminjam uang.
 
Rustam menjelaskan dia juga tidak pernah mengintervensi proses tender di Kemenkes dan semua tender berjalan dengan sesuai prosedur.
 
"Tidak ada niat jahat apapun saya melakukan tugas dalam karir yang sudah beberapa puluh tahun," ujar Rustam sambil meneteskan air mata.
 
Dalam pengadaan proyek Alkes, Rustam yang saat itu menjabat sebagai pejabat pengguna anggaran dan komitmen hanya menjalankan perintah atasannya saja. Sehingga, dia pun terpaksa dipanggil oleh Siti Fadila untuk menghadapnya di ruang kerja. Saat didalam ruang kerja, ternyata disana sudah ada Sekjen Kemenkes Syafii Ahmad, kemudian Rustam pun ditanya Siti Fadila apakah tidak setuju revitalisasi flu burung, dan dijawabnya tidak.
 
"Pak Sekjen Syafii Ahmad saat itu bilang kamu revisi anggaran, kamu bagi dua paket menjadi Rp40 miliar, sehingga tidak perlu tanda tangan menteri," tuturnya.
 
Bahkan, Rustam juga membantah dakwaan JPU yang memerintahkan Ketua Tim Proyek Yus Rizal untuk menyusun spesifikasi alkes yang diarahkan kepada produk sesuai dengan apa yang didistribusikan PT Graha Ismaya.
 
Lebih lanjut, Rustam mempertanyakan dimana jumlah kerugian negara yang didakwaakan oleh JPU, namun yang ada hanyalah denda keterlambatan PT Global Medika untuk menyediakan alat.
 
"Berdasarkan hasil audit BPK 13 Juli 2011, tak ditemukan adanya kerugian negara dalam proyek Alkes, Perhitungan kerugian negara versi juru bicara KPK sebesar Rp6,8 miliar, penyidik menyebut kerugian negara lebih Rp22 miliar. Apakah ada manipulasi dalam kerugian negara tersebut?," pungkasnya.
 
Seperti diketahui, dalam kasus Alkes Kemenkes 2007 ini, Rustam dituntut lima tahun penjara dan denda Rp250 juta subsider 6 bulan kurungan. Rustam didakwa telah memperkaya diri sendiri melalui uang MTC sebesar Rp2,47 miliar dalam proyek di Kemenkes.
(hol)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Alasan Ahok Mencak-Mencak di Depan Buruh