Ini Transkrip Rekaman Percakapan Hartati & Bupati Buol

|

Ini Transkrip Rekaman Percakapan Hartati & Bupati Buol

JAKARTA - Pengadilan Tindak Pidana Korupi memutar rekaman percakapan bos PT Hardaya Inti Plantation (HIP) Siti Hartati Murdaya dengan tersangka suap penerbitan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Buol, Amran Batalipu, Kamis (13/12/2012).

 

Dalam percakapan via telepon yang disadap penyidik KPK dari telepon genggam milik Direktur Utama (Dirut) PT Hardaya Inti Plantations (HIP), Totok Listyo, Hartati Murdaya terbukti menyuap Amran Batalipu.

Berikut transkrip rekaman percakapan, Totok Listyo, Hartati Murdaya dengan Amran Batalipu.

 

Totok : Saya sudah beri kabar ke ibu. Ibu udah oke. Tapi dua itu, sisa dari hak rekomendasi yang sisa 75 ribu. Ini ibu mau bicara

Hartati : Makasih ya sudah terima dua kilo, itu kan izin lokasinya atas nama CCM, tapi supaya gak keluar ke orang lain, kita saya minta bapak untuk bikin surat kepada PT CCM memberitahu bahwa itu izin lokasinya atas nama CCM. Yang CCM ya pak,

Amran : Iya bu

 

Hartati : Nanti bapak saya serahkan izin lokasinya. Bapak tahu kan Buol itu kosong investasi, CCM ditarik masuk oleh pak gubernur masuk ke situ, sekarang saya kan sudah buktikan supaya berinvestasi biar maju. Dan di situ juga sudah dimekarkan, dia minta yang 70 ribu itu jangan dikorting, semuanya diserahkan. Diserahkan ke kita, sebab saya tidak ada IUP nya, saya dikerjain terus seperti ini.kasih surat ke saya, nanti kita barter lagi yang dua kilonya.

Amran : Mungkin nanti begini bu

Hartati : Bisa ga?

Amran : saya akan bicarakan dulu bu dengan seluruh tim.

 

Hartati : Bapak kan tahu saya ini sudah jadi pahlawan. Saya yang paling berat kerjanya di situ, orang lain main masuk saja, kita dianiaya. Bapak bantu saya lawan dia

Amran : Iya bu nanti, kita bicarakan dulu dengan tim, semuanya. Tentu kan masalah itu harus kompak semuanya, yang baru-baru kan enak bu, kompak. Nanti saya bantu bu.

Hartati : Kapan pak? Bisa selesai cepat ga? seminggu ini.

Amran : Dikondisikan tentu saja,

Harttati : Supaya saya bisa dibantu, saya pusing ini, terus diganggu sama dia. Bapak pura-pura tidak tahu dia saja. Bisa ga pak dipercepat, masalahnya biar bisa cepat saja.

 

Amran : Maksud saya begini bu..

Hartati : Pak, saya ga salah loh pak, malah kita itu berjasa di situ, sekarang bapak kasih saja itunya ke kita, izinnya ke kita, nanti dia gak bisa nyela lagi. Saya setiap hari diganggu begini, nanti dikira saya nantang dia. Sudahlah itu tinggalin saja, alat berat kamu tinggalin aja, kalau mau bawa, bawa, tinggalin, tinggalin. Tapi dia kan ga ada hak untuk masuk ke lokasi itu. Kita di situ tuh udah benar benar. Awalnya investasi di situ kan berat sekali, sekarang sudah main serobot aja, dibeginikan,. Kita sprit apa nih? sudah dipanggil investasi segala macam, sekarang masuk orang lain, enak saja main potong sendiri. Kita ke sono macet-macet karena dia. Pak bisa ga dalam waktu seminggu

Amran :  Kalau minggu ini saya sibuk sekali, saya ini masih cuti bu..kecuali abis cuti ini bu, tanggal 3 an.

 

Hartati :Sekarang msih cuti ya?

Amran :Iya bu, kalau saya undang mereka sekarang, saya jadi salah, saya kan nunggu surat dari Mendagri, cuti sampai tanggal 3, tanggal 3 baru masuk kantor. Masalahnya kan ada instansi lain bu. Kalau dibicarakan dengan pelaksana tugas bupati, dia ga berani, nanti setelah saya masuk, saya bisa urus itu. Intinya kan kemaren sudah.

Majelis hakim pengadilan Tipikor yang mendengarkan transkrip rekaman ini, menanyakan keabsahan bukti rekaman tersebut ke Amran.

 

“Apa benar itu?” tanya Hakim Gusrizal kepada Amran.

Amran pun membenarkan percakapan dari telepon tersebut adalah suaranya. “ Benar Beliau (Hartati) telepon saya saat itu, minta sisa 75 ribu hektare dikeluarkan,” jawab Amran.

 

Dalam kasus ini, Hartati diduga telah melakukan suap kepada Bupati Amran Batalipu sebesar Rp3 miliar untuk menerbitkan HGU perkebunan kelapa sawit. Namun, dari beberapa kali kesaksian, Hartati membantah menyuap Bupati Buol, melainkan diperas.

 

Bahkan, disebutkan bahwa uang yang diberikan secara bertahap oleh anak buah Hartati, yakni Yani Anshori dan Gondo Sudjono itu tanpa sepengetahuan dirinya. Versi Hartati, uang itu ditujukan untuk kepentingan Pilkada oleh Amran dan dibelikan sembako untuk dibagikan kepada masyarakat setempat.

(ful)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kejagung Jangan Terjebak Euforia Pemberantasan Korupsi