Walikota Palembang Bagai Kacang Lupa Kulit

|

Ilustrasi

Walikota Palembang Bagai Kacang Lupa Kulit

JAKARTA - Kasus pelanggaran etika kembali terjadi. Kali ini menimpa Walikota Palembang Eddy Santana Putra, yang mencampakkan istrinya, Srimaya Haryanti Saleh. Padahal, Srimaya telah membantu Eddy secara moril maupun materil dalam memenangkan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) pada tahun 2003.

Eddy belakangan diketahui berpaling dengan model majalah dewasa yang diketahui bernama Tuty Alawiyah atau yang akrab disapa Eva Ajeng. Pria yang pernah berprofesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian PU itu pun langsung melupakan jasa dan bantuan istrinya yang telah membantunya maju sebagai Walikota Palembang tersebut.

“Gaji suami saya waktu itu sekitar Rp90 juta. Kami masih tinggal di rumah orangtua saya. Bahkan, ketika berbulan madu ke Amerika Serikat, semuanya dibiayai oleh orangtua saya,“ ungkap Srimaya dalam keterangan persnya kepada wartawan, Kamis (27/12/2012).

Menurut pengakuan Srimaya, dirinya sangat kecewa atas perlakuan suaminya tersebut. Lantaran, dalam dua kali pemilihan kepala daerah, suaminya dibantu secara total oleh keluarga istrinya tersebut.

“Untuk biaya kampanye semuanya sudah dibantu ibu saya,” tegasnya.

Walikota Palembang yang menjabat hingga 2013 mendatang itu pun tiba-tiba mengajukan surat perceraian ke Srimaya dengan nomor gugatan No. 0300/Pdt.G/2011/PA.Palembang ke Pengadilan Agama Palembang yang akhirnya dikabulkan majelis hakim. Srimaya yakin, suaminya menceraikan dirinya karena pengaruh model majalah dewasa tersebut.

Merasa dibohongi, ibu dua anak itu pun berusaha melaporkan sikap suaminya ke berbagai pihak, seperti Kementerian Pemberdayaan perempuan, Komnas perempuan dan PA, Kemneterian Dalam Negeri, bahkan Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin. Namun, sampai saat ini dia belum mendapatkan respon atas aduannya tersebut.

“Apalagi suami saya mulai berani menampilkan Eva Ajeng ke depan umum. Bahkan, di beberapa sudut kota, terpasang baliho dengan wajah Eddy Santana dan Eva Ajeng,“ terangnya.

Kini, Srimaya hanya berharap kepada Mahkamah Agung dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dia mengaku mengajukan kasasi setelah Pengadilan Tinggi Sumatera Selatan menguatkan putusan Pengadilan Agama Palembang.

“Saya juga akan berusaha menemui Bapak Presiden. Beliau, kan, minta agar para pemimpin formal menghormati perkawinan dan memberi contoh kepada masyarakat yang dipimpinnya,” tegasnya.

Srimaya mengaku, jika kini sedang kebingungan karena tahun depan sudah harus meninggalkan rumah dinas walikota karena masa tugas Eddy Santana selesai pada 2013.  “Saya tidak punya rumah. Selama ini saya menjual warisan ibu saya untuk menghidupi anak-anak saya,” tandasnya.

(trk)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pemuda Tewas Tertimpa Tiang Bangunan Sekolah