Walah, 30 Profesor Palsukan Kuintasi Ratusan Juta

|

Ilustrasi : Reuters

Walah, 30 Profesor Palsukan Kuintasi Ratusan Juta
TAIPEI - Dunia pendidikan tinggi Taiwan diguncang kasus pemalsuan. Namun kali ini, pemalsuan bukan berhubungan dengan plagiarisme.  
Lebih dari 30 profesor yang berasal dari beragam universitas di Taiwan, dituduh menggunakan kuitansi palsu untuk mendapatkan reimburse untuk penelitian dari kampusnya. Profesor yang terlibat skandal kebanyakan berasal dari kampus elite yang ada di negara tersebut. Tuduhan ini memicu perdebatan mengenai urgensi pengetatan aturan dalam biaya pengeluaran.
 
Skandal ini muncul ke permukaan pada awal Januari. Saat itu, jaksa di Kabupaten Changhua mendakwa 12 profesor dari National Chung Hsing University, National Yang Ming University, National Defence Medical Centre, dan National Taichung University of Education atas tuduhan pemalsuan atau korupsi.

Seperti dilansir The Straits Times dan dimuat Edvantage, Selasa (22/1/2013), belakangan jumlahnya bertambah. Pekan lalu, penyidik ‘menyetorkan’ 21 nama profesor dan staf dari kampus elite National Taiwan University, National Chengchi University, dan National Taiwan Normal University ke Kejaksaan Taipei atas tuduhan pelanggaran hukum.
 
Para profesor diduga menggunakan kuitansi palsu dari dua pemasok, Kuo Yang Scientific Corp dan LiMing Instrumens Co, untuk mengganti biaya penelitian dengan nilai mulai dari 50.000 dolar Taiwan atau setara dengan Rp16 juta hingga 500.000 dolar Taiwan setara dengan Rp166 juta.
 
Pembayaran ini untuk proyek penelitian yang disetujui Departemen Pendidikan dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Nasional (NSC) selama 2008 hingga 2010.
 
Dalam beberapa kasus, para akademisi dituduh menyerahkan kuintasi pembelian perlengkapan yang tidak cocok dengan yang dibeli. Modus lain yang digunakan adalah penggelembungan harga yang dilakukan para pemasok.
 
Penyidik menyatakan dua pemasok dituduh menaikkan harga barang-barang mereka saat tender sehingga memberikan surplus kepada para profesor. Sumber menyatakan uang itu digunakan membeli barang-barang seperti sepeda, TV, dan voucher.
 
Namun sebagian besar para profesor menolak tuduhan ini. Mereka bersikeras menggunakan uang untuk kegiatan penelitian seperti peralatan eksperimen dan kertas cetak. Penyelidikan masih terus dilakukan. Menurut penyidik, jumlah orang yang terllibat kemungkinan akan terus bertambah hingga 100 orang.
 
Sejumlah pihak menyesalkan insiden ini. Menteri Pendidikan Taiwan Chiang Wei-ling bersama dengan Kepala NSC Cyrus Chu menyatakan, insiden ini akan melemahkan moral para mahasiswa. Selain itu, insiden ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di dunia internasional mengenai dugaan korupsi di dunia pendidikan Taiwan.
 
Mereka mengatakan staf harus dikenakan dakwaan jika menggunakan uang untuk penggunaan pribadi apalagi yang menghabiskannya uang penelitian.
(mrg)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Tinta KPK Bikin Jokowi Dilema