BANDAR LAMPUNG - Kematian badak Sumatera bernama Ipuh di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat, bisa memengaruhi perkembangbiakan badak, khususnya di luar Indonesia.
Ipuh merupakan kakek dari Andatu, bayi badak yang dilahirkan melalui proses penangkaran alami di Taman Nasional Way Kambas, Lampung Timur. Kelahiran Andatu sangat dinantikan selama 120 tahun. Ia merupakan badak pertama yang berhasil dilahirkan di penangkaran alami.
Dokter hewan utama Suaka Rhino Sumatera (RSS), Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Dedi Chandra, mengatakan, meski tidak berpengaruh terhadap perkembangbiakan badak Sumatera di Indonesia, kematian Ipuh dinilai bisa memberi dampak besar terhadap keberlangsungan hewan langka tersebut.
Secara garis keturunan, lanjut Dedi, Andatu merupakan anak dari Andalas. Andalas sendiri merupakan satu dari tiga anak yang dilahirkan dari rahim Ipuh. Dua badak lainnya adalah Suci, yang kini juga berada di Kebun Binatang Cincinnati, dan Harapan, yang berada di Kebun Binatang Los Angles.
“Kami sangat sedih mendengar kabar kematian Ipuh, karena satu lagi satwa super langka di dunia itu mati,” ungkap Dedi.
Andatu, yang saat ini berumur delapan bulan, dalam kondisi sehat dan bobotnya sudah mencapai 260 kilogram. “Mudah-mudahan tahun ini akan ada badak yang hamil lagi di SRS,” harapnya.
Ipuh mati di usia 33 tahun di Kebun Binatang Cincinnati. Ia disuntik mati oleh staf kebun binatang karena kondisi kesehatannya terus menurun. Ipuh sudah sakit sejak Desember 2012.
(Dian AF)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.