Tergugat Tak Hadir, Sidang Sengketa Pengelola Tambang Emas Ditunda

|

ilustrasi

Tergugat Tak Hadir, Sidang Sengketa Pengelola Tambang Emas Ditunda

JAKARTA - Gugatan perdata terhadap pengelola pertambangan emas Tumpang Pitu, Banyuwangi asal Australia digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sidang perdana yang semula direncanakan digelar pada pukul 10.00 WIB baru dimulai pada pukul 14.15 Wib.

 

Keterlambatan pelaksanaan sidang perdana ini lantaran tiga dari empat tergugat yang merupakan perusahaan dan warga negara asing tidak menghadiri ataupun mengirimkan kuasa hukum di persidangan.

 

Hanya ada satu tergugat yang merupakan perusahaan asal Indonesia yakni Indo Multi Niaga, dimiliki oleh duet suami istri, Reza-Maya, yang mengirimkan kuasa hukumnya.

 

"Kami sangat menyayangkan ketidakhadiran tergugat satu, dua, dan tiga. Yaitu, Emperor Ltd dan Intrepid Ltd, Chief Executive Officer Intrepid Bradley Austin Gordon, dan General Counsel Intrepid Vanessa Mary Chidrawi. Padahal, di situs resmi milik Intrepid terpampang bahwa perusahaan ini telah menerima surat panggilan dari PN Jaksel," kata Alexander Lay selaku Kuasa Hukum penggugat Michael Paul Willis pemilik Indoaust Mining Pty Ltd, Senin (25/02/2013).

 

Akibat ketidakhadiran para tergugat dalam persidangan ini, majelis hakim memutuskan menunda persidangan hingga Senin 20 Mei 2013 mendatang. Majelis hakim berencana akan kembali melayangkan surat panggilan kepada para tergugat yang berada di luar negeri.

 

"Harusnya mereka (tergugat) menghormati hukum di Indonesia dengan menghadiri persidangan. Jelas ketidakhadiran mereka ini mengganggu jalannya persidangan, karena persidangan harus menunggu kehadiran para tergugat," jelas Alex.

 

Dalam kesempatan yang sama, Michael Paul Willis menyatakan bahwa para tergugat terbukti takut dalam menghadapai gugatannya.

 

“Meskipun pada tanggal 19 Pebruari 2013 Intrepid mengumumkan kepada para pemegang saham publiknya bahwa mereka siap menghadapi gugatan saya yang mereka anggap tidak berdasar hukum, tetapi faktanya hari ini mereka tidak berani datang ke pengadilan untuk menghadapi gugatan itu. Saya dan kuasa hukum saya sudah menunggu sidang sejak pukul 10.00 WIB, tapi ditunggu sampai pukul 13.00 WIB, mereka tidak hadir tanpa kabar apapun,” tuturnya.

 

Tindakan Intrepid, Emperor, Brad Gordon dan Vanessa Chidrawi yang tidak hadir tanpa kabar apapun, kata dia, menunjukan bahwa mereka tidak menghormati pengadilan Indonesia. “Hal ini konsisten dengan komentar Brad Gordon sebelumnya di pers Australia yang menyatakan bahwa pengadilan Indonesia rentan terhadap manipulasi dan pengadilan Australia jauh lebih superior,” ungkapnya.

 

Willlis menjelaskan Intrepid Mines mungkin khawatir bahwa jika bukti-bukti dihadirkan di persidangan, pemegang saham mereka termasuk Surya Paloh, akan mengetahui kebenaran dari sejarah Proyek Tujuh Bukit dan hal ini bisa berujung pada kesimpulan bahwa Intrepid Mines dan Brad Gordon tidak memberikan informasi yang benar kepada mereka terkait Proyek Tujuh Bukit.

 

”Saya berharap pada persidangan berikut tanggal 20 Mei 2013 Para Tergugat akan hadir untuk membuktikan pihak yang mana yang menyatakan kebenaran, dan pihak mana yang hanya menggertak saja,” harapnya.

 

Menurut kuasa hukum Willis, Alexander Lay, para tergugat itu melakukan tindakan melawan hukum setelah memaksa Wilis menandatangani dokumen yang merugikan dirinya pada 21 April 2008. Dalam perjanjian tersebut, Willis dipaksa melepaskan hak atas proyek tambang emas Tujuh Bukit dan memberikannya kepada Emperor Mines. Alexander mengatakan Willis memiliki cukup bukti untuk menguatkan gugatannya. Karena itu, dia meminta pengadilan mengabulkan gugatan material sebesar AU$ 2,5 juta dan immaterial senilai AU$ 250 juta.

 

"Kami optimistis memenangi gugatan karena tindakan para tergugat cacat secara moral dan yuridis," katanya.

 

Sebelumnya diberitakan, pada 25 Oktober 2012, pengusaha pertambangan asal Australia, Michael Paul Willis, mengajukan gugatan perdata kepada pengelola tambang emas Tujuh Bukit di Banyuwangi. Pemilik Indoaust Mining Pty Ltd ini mengajukan nilai total kerugian sebesar AU$ 252,5 juta atau sekitar Rp 2,5 triliun setelah dipaksa melepaskan hak atas proyek tambang emas tersebut.

(cns)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Profesi Saya Ibu