Perhitungan Secara Elektronik Harus Sudah Dipikirkan KPU

|

Ilustrasi (Okezone)

Perhitungan Secara Elektronik Harus Sudah Dipikirkan KPU

JAKARTA - Meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara belum mengeluarkan hasil resmi terkait Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Utara, namun pasangan Calon Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujonugroho, diarak pendukungnya.

Hal tersebut menunjukan bahwa pendukung Gatot yakin, jika hasil penghitungan cepat lembaga survei dengan 30 persen, perolehan suara sementara itu dirilis oleh dua Indobarometer dan LSI yang disiarkan di dua televisi swasta.

Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam pemilihan Gubernur Sumatera Utara, dalam Pilkada DKI Jakarta masyarakat juga telah yakin dengan kemenangan Jokowi-Ahok sebelum KPUD DKI mengumumkan hasil resminya.

Berikut petikan wawancara Okezone dengan Direktur Perludem Titi Anggraini terkait fenomena tersebut.

Belakangan ini masyarakat yang telah meyakini hasil survei pilkada dan pilgub, sebagai akhir hasil dari perolehan suara, bagaimana komentar Anda?

Fenomena tersebut adalah fenomena umum yang juga terjadi di negara-negara demokrasi lain terkait dengan budaya pemilih dan juga perkembangan teknologi dan dunia kepemiluan terkini.

Lantas buat apa ada KPU, jika hasil survei telah diyakini masyarakat?

Sulit menyangkal, karena survei pilkada dan pilgub keluar dengan hasil yang hampir selalu mendekati hasil rekapitulasi manual yang dikeluarkan oleh KPU daerah. Hasil survei hanya sekedar referensi bagi masyarkat dalam konteks persepsi, tapi hasil di KPU merupakan prasayarat legitimasi hukum perolehan suara pasangan calon, karena proses pemilu adalah proses perebutan kekuasaan secara konstitusional. Sehingga hasilnyapun harus dikeluarkan dalam konteks kerangka hukum sesuai perundang-undangan yaitu melalui mekanisme rekapitulasi manual.

Dengan waktu yang cepat lembaga survei mampu mengelurkan hasil perhitungan suara, apakah cara kerja lembaga survei perlu ditiru KPU?

Nah itu mestinya jadi referensi bagi KPU dalam melakukan pemutakhiran sistem, metode, dan teknologi kepemiluan. Apapun mekanisme yang dipilih tujuan akhirnya tetaplah harus bertujuan utk melayani pemilih dengan sebaik-baiknya.

Perhitungan secara elektronik harus sudah dipikirkan penggunaan dan pengembangannya dalam rangka menjawab kebutuhan publik untuk mengatahui hasil pilkada dan pilgub secara cepat.

Kapan kira-kira KPU dapat segera adopsi hal tersebut?

Mestinya saat ini sudah lebih baik, karena untuk pemilu legislatif upaya tabulasi elektronik sudah coba diadopsi sejak pemilu 2004, hanya saja kualitasnya masih jauh dari sempurna. Butuh komitmen dan keseriusan KPU untuk sungguh-sungguh memperbaiki segala sesuatunya terkait electronic counting ini

Dari kaca mata Perludem melihat apa dampak yang timbul di masyarakat saat ini, ketika hasil survei bisa jadi patokan dari perhitungan pemilu?

Secara umum hanya menjadi referensi, namun publik tetap harus diedukasi bahwa survei tetap saja membuka kemungkinan ada margin error. Sehingga tetap saja ada batas dimana ketika selisih pada margin error maka publik harus diinformasikan bahwa hasil hitung manual bisa saja berbeda dengan hasil survei

Harapan Perludem sendiri soal Pemilu mendatang?

Harapannya manajemen pemilu semakin baik, tertib, dan juga bisa melayani publik dengan maksimal. Penggunaan teknologi harus dikaji dengan sebaik-baiknya, kehadirannya diharapkan semakin bisa melayani pemilih dengan sebaik-baiknya dan tetap mampu menjaga kemurnian suara pemilih.

(ahm)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Honda Perkenalkan Motor Trail Terbaru CRF230F