Uang Kuliah Tunggal, Why Not?

|

Padlun Fauzi. (Foto: dok. pribadi)

Uang Kuliah Tunggal, Why Not?
BELAKANGAN ini dunia pendidikan kita khususnya, perguruan tinggi negeri (PTN) sedikit dibuat gusar dengan adanya sebuah isu yang santer berkembang tentang uang kuliah tunggal (UKT) atau beberapa PTN menyebutnya SPP Tunggal. Beberapa waktu lalu, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendikbud menerbitkan surat edaran untuk para pimpinan PTN se-Indonesia. Surat bernomor 97/E/KU/2013 itu berisi dua poin penting yang harus dilaksanakan PTN tahun ini.  
Dalam surat itu disebutkan, PTN harus menghapus uang pang­kal dan menerapkan UKT bagi mahasiswa baru S-1 reguler mulai tahun akademik 2013/2014. Sebenarnya hal itu sudah lama disosialisasikan. Untuk penghapusan uang pangkal bagi mahasiswa, banyak PTN yang siap melaksanakan. Asumsinya, penerimaan uang pangkal yang biasa ditarik PTN di awal semester  bisa di­tutup dengan Bantuan Opera­sio­nal PTN (BOPTN) yang akan digelontorkan pemerintah dalam waktu dekat ini.  Namun, pelaksanaan UKT masih menuai pro kontra. Beberapa kalangan menyebut UKT ini hanya menjadi peluang PTN untuk menaikan uang kuliah dari yang sebelumnya.
 
Menteri Pendidikan dan Ke­bu­dayaan (Mendikbud) M Nuh me­ngatakan, UKT akan me­ri­ngankan mahasiswa. Menurutnya, biaya yang dibebankan kampus kepada ma­hasiswa terlalu banyak. Selama ini, selain biaya kuliah semeste­ran, mahasiswa juga masih harus membayar berbagai sumbangan seperti pembangunan, praktikum dan sebagainya. Kalau memang nyatanya ini menjadi sebuah terobosan baru pemerintah untuk meringankan beban mahasiswa dalam pembiayaan, mengapa program ini menjadi polemik di beberapa kalangan.
 
Selain itu, dengan model UKT, sistem kontrol juga mudah dilakukan. Model UKT dilaku­kan dalam satuan biaya tertentu sesuai prodi dan letak wilayah masing-masing PTN. Nominal­nya ditentukan dengan cara menjumlahkan semua biaya yang di­butuhkan mahasiswa dibagi de­ngan masa studi (delapan semester). Ka­rena pembayaran hanya satu pos, aliran dana lebih mudah dikendalikan. Menurut beberapa sumber, ada beberapa PTN yang menyamaratakan semua biaya SPP untuk masing-masing jurusan. Contohnya jurusan Pendidikan Dokter, biaya SPP per semesternya sama dengan jurusan Ilmu Sejarah. Ini justru akan menjadi polemik sendiri manakala dalam kaitannya dengan pembiayaan ada sebuah kesenjangan yang cukup besar. Walaupun untuk beberapa jalur masuk ada yang berbeda dan ada juga yang sama.
 
Keuntungan lainnya adalah, mo­del UKT menjamin biaya ku­liah mahasiswa tetap selama studi. Karena tiap PTN sudah menghitung besaran biaya tiap jurusan yang diutuhkan selama menempuh masa studi, sehingga diharapkan tidak adanya pungutan-pungutan lainnya ketika kuliah.
 
Sementara itu,  penerapan  mo­del UKT juga dinilai merugi­kan PTN dan mahasiswa. Penerapan UKT akan ber­dampak pada penerimaan perguruan tinggi pa­da tahun per­tama dan kedua se­ca­ra signifikan. PTN akan meng­alami ke­rugian pada ki­saran angka Rp50 miliar hingga Rp 200 miliar, tergantung banyak sedikitnya mahasiswa.
 
Konsekuensinya adalah pada arus kas universitas. sumbangan pembangunan gedung yang biasanya dibayar dalam dua kali angsuran, melalui sistem SPP tunggal akan dibayarkan hingga delapan kali, sesuai beban semester yang wajib ditempuh mahasiswa. Jika pemerintah telah memberlakukan UKT, pemerintah akan menanggung biaya-biaya operasional non-investasi antara lain seperti praktikum.
 
Jumlah biaya operasional setiap program studi dan PTN berbeda sehingga perhitungan uang kuliah tunggalnya pun akan berbeda-beda. Intinya, dengan uang kuliah tunggal, mahasiswa hanya perlu membayar satu kali tanpa tambahan bayar ini itu. Kemungkinan, akan ada perguruan tinggi yang kekurangan biaya operasional apabila tidak menaikkan uang SPP. Namun, hal itu tidak perlu dikhawatirkan karena pemerintah sudah berjanji akan membantu dengan sistem insentif-disinsentif. Pemerintah akan menambah (insentif) atau mengurangi (disinsentif) dana subsidi, terutama bagi kampus-kampus ternama dan banyak peminatnya.
 
Padlun Fauzi
Mahasiswa Jurusan Ilmu Sejarah
Universitas Padjadjaran
(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Calon Menteri Kompak Pakai Kemeja Putih Pemberian Jokowi