Kronologi Penembakan 4 Pembunuh Kopasus versi Kemenkumham

|

Polisi dan TNI bersenjata bersiaga di LP Cebongan (Foto: Prabowo/Okezone)

Kronologi Penembakan 4 Pembunuh Kopasus versi Kemenkumham

JAKARTA - Dirjen Keamanan dan Ketertiban (Dir Kamtib) Kementerian Hukum dan HAM, Wibowo Joko, menceritakan kronologis penyerangan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Cebongan, Sleman, DIY, dini hari tadi.

“Jadi tadi malam ada seorang yang ingin bertemu empat tahanan itu (korban tewas) dan mengaku dari Polda Jogja. Namun karena sudah malam ditolak oleh petugas kami. Namun dia tetap ingin bertemu tahanan itu. Kemudian petugas tadi melapor Kepala Keamanan Lapas dan Kepala Lapas pun datang,” kata Wibowo saat dihubungi Okezone, Sabtu (23/3/2013).

Tiba-tiba sekira 20 orang bercadar tadi masuk dan langsung menyerang Kepala Lapas. Mereka minta diantar dan dipertemukan dengan tahanan yang dimaksud.“Kepala Lapas dipuntir tangannya, dianiaya. Dua petugas yang lain juga dianiaya,” tambahnya.

Para pelaku langsung menyasar ruang tahanan empat orang tadi berada. Sesampainya di ruang tahanan itu, ada 34 orang tahanan lainnya. Semuanya dipinggirkan dan disisakan empat orang tadi. Kemudian mereka ditembak di tempat,” katanya.

Usai melakukan aksi itu, para pelaku kabur dan merusak kamera pengintai (CCTV) dan mengambil  rekamannya. “Mereka langsung kabur,” ujarnya.

Dia menjelaskan, empat orang tahanan yang ditembak ini merupakan tersangka kasus pembunuhan anggota Kopasus, Sertu Santosa, Sertu Santosa, di Hugo's Cafe, Jalan Adisucipto KM 8,5 Maguwoharjo, Depok, Sleman pada Selasa, 19 Maret. Satu dari empat tersangka merupakan anggota polisi yang sudah dibebastugaskan.

"Awalnya itu pekan lalu ada kejadian keributan di café Jogja, ternyata salah satu anggota Kopasus tertusuk dan meninggal dalam keributan itu. Dan yang menusuk adalah mantan anggota polisi yang kemudian dititipkan di Lapas Sleman," pungkasnya.

(tbn)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    JK: Menko Polhukam Takut Munas Golkar di Bali Ricuh