Bandung Lautan Api, Sejarah yang Terpinggirkan

Buku yang mengupas sejarah "Bandung Lautan Api" (Foto: Iman H/okezone)

Bandung Lautan Api, Sejarah yang Terpinggirkan
BANDUNG- Peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) menjadi salah satu tonggak berdirinya Republik Indonesia (RI).

Peristiwa yang terjadi 67 tahun lalu itu hingga kini kerap diperingati warga Bandung dengan berbagai ritual atau seremoni, termasuk berkeliling Bandung sambil mengusung obor tiap malam menjelang 24 Maret.

Namun, bagaimana latar belakang Bandung dibakar dan peristiwa apa saja yang melingkupinya, tidak banyak orang yang tahu.

Penelusuran Okezone, salah satu buku yang cukup konprehensif  mengulas BLA adalah buku “Saya Pilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan” yang ditulis tim penulis Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, yakni Ratnayu Sitaresmi, Aan Abdurachman, Rustadi Widodo Kinartojo, Ummy Latifah Widodo, dengan penyelia Soewarno Darsoprajitno.

Buku setebal 164 halaman itu dicetak Penerbit Bunaya, Maret 2002, dengan kata pengantar dari saksi sekaligus salah satu aktor penting BLA, Jenderal Besar TNI (Purn) AH Nasution.

Dalam peristiwa BLA itu, Nasution menjabat Komandan Divisi III (cikal bakal Kodam III Siliwangi) Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dengan pangkat Kolonel. Nasution memegang kendali militer tertinggi di Bandung pada peristiwa itu.

Buku tersebut khusus mengulas latar belakang peristiwa BLA, termasuk menyajikan fakta/data dan penuturan para tokoh pelaku yang terkait dengan BLA.

Pada awal dibuka dengan pernyataan berbau kritik: “Peristiwa Bandung Lautan Api seolah-olah terpinggirkan dari tengah peta sejarah Indonesia. Padahal dalam sejarahnya Bandung merupakan kota yang diperebutkan karena dianggap strategis sebagai pusat kekuasaan untuk menguasai Hindia Belanda. Bahkan, Bandung menjadi sasaran ancaman tentara Jepang agar Belanda menyerah. Pembakaran Bandung menjadi klimaks dari perebutan tersebut.”

Pada bab itu disebutkan, BLA adalah satu dari sekian banyak kepingan sejarah yang mewarnai perjalanan hidup bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Meskipun terjadi di Bandung, banyak di antara warga Bandung sendiri yang tidak mengenal peristiwa ini secara pasti dan jelas. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya peristiwa ini? Siapa pula tokoh-tokoh yang ada di balik peristiwa ini? Padahal banyak di antara tokoh tersebut kemudian menjadi tokoh penting yang memimpin bangsa ini.

Ketidaktahuan ini diperparah dengan minimnya buku yang menceritakan sejarah BLA. Buku-buku yang menguraikan sejarah BLA secara terperinci di antaranya adalah buku memoar Memenuhi Panggilan Tugas karya Jendral Besar TNI TNI (Purn) AH Nasution (1990), Buku Sejarah Kota Bandung (1945-1950) disusun untuk kepentingan Pemerintah Daerah Kotamadya Bandung yang ditulis secara tim, diketuai Prof Dr Edi S Ekadjati (1986).

Sebuah buku lainnya yang merupakan sumber primer peristiwa BLA adalah buku Setahoen Peristiwa Bandoeng (1947) oleh Samaoen Bakry, seorang wartawan yang menjadi wakil Residen Banten (yang kemudian gugur di Palembang). “Satu hal yang menyedihkan adalah peristiwa ini tidak dicantumkan dalam Buku Sejarah Nasional Indonesia yang ditulis Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto (1990),”.

“Peristiwa  Bandung Lautan Api pada 24 Maret 1946 dalam sejarah Indonesia hanya sebuah titik kecil di antara peristiwa heroik besar lainnya. Hal ini dapat dilihat dari tidak tercantumnya peristiwa ini di dalam buku Sejarah Nasional Indonesia (1993) yang terdiri dari enam jilid....” kata Tim Penulis dalam prakata halaman x.

Peristiwa BLA terkait dengan pengukuhan kedaulatan RI pasca-Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Pasca-proklamasi, ancaman penjajah asing belum selesai. Jepang yang sudah tidak berkutik melawan Sekutu masih bercokol di Bumi Pertiwi. Belum lagi pada 15 September 1945 Armada Inggris mendarat di Tanjung Priok, Jakarta.

Dalam armada perang besar dan modern itu, Inggris membawa Belanda/Netherlands Indies Civil Administration (NICA). Inggris bertugas melucuti senjata tentara Jepang, menyelamatkan tawanan perang orang Belanda oleh Jepang, lalu menyerahkan kekuasaan Hindia Belanda kepada Belanda.

Bandung menjadi kota kunci dalam transisi kekuasaan itu, karena di kota inilah sebelumnya Belanda menyerah kepada Jepang. Di Bandung juga banyak pejabat tinggi dan warga Belanda yang mengungsi dari Batavia (Jakarta) akibat serangan Jepang.

Inggris pun mengutus pasukan Recovery of Allied Prisioners of War and Internees (RAPWI) yang Kapten Gray ke Bandung. Inggris memerintahkan TKR dan pejuang untuk menyerahkan senjata.

Perintah ini tentu tidak diterima baik oleh TKR maupun pejuang yang terdiri dari organisasi pemuda dan masyarakat seperti laskar dan organisasi perlawanan lainnya. Kebencian pejuang terhadap Inggris selain karena membawa NICA juga karena perintah melucuti senjata itu.

Perlawanan TKR, pejuang, dan rakyat Bandung terhadap Inggris dan NICA berlangsung sengit. Akibatnya dua kali Inggris mengultimatum pemerintah Indonesia yang dipimpin Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir agar pejuang Bandung tidak melakukan perlawanan. Dua kali ultimatum inilah yang memicu pengungsian 100 ribu hingga 200 ribu rakyat Bandung yang diiringi pembakaran Bandung.

Meletusnya peristiwa BLA memicu Konferensi Meja Bundar (KMB) yang isinya Belanda maupun dunia internsional termasuk Belanda mengakui kedaulatan Indonesia.

“Melalui BLA inilah gema perjuangannya dapat menembus ke dunia internasional...kedramatikan dan romantika BLA memang sangat menarik, apalagi nilai sejarah yang terekam didalamnya,” kata Ketua Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, H.E.K Ruhiyat, dalam kata pengantar buku. (kem)

foto & video lainnya

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Ibas: Kita Beri Jokowi Kesempatan 100 Hari