Dikaitkan dengan HAM, RI Abstain Atas Traktat Senjata PBB?

|

Foto : Menlu RI Marty Natalegawa (Doc Okezone)

Dikaitkan dengan HAM, RI Abstain Atas Traktat Senjata PBB?

JAKARTA - Traktat perdagangan senjata yang disepakati di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menunjukan adanya dukungan dari 155 negara. Tetapi Indonesia memutuskan untuk abstain, apa yg membuat indonesia mengambil pilihan itu?

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan, pada dasarnya indonesia mendukung traktat itu. Tetapi indonesia memiliki pertimbangan lain.

"Betul memilih abstain terhadap treaty ini. Dari segi azas manfaat indonesia sepenuhnya mendukung, namun teks atau draft yang diajukan untuk dipungut suarakan menurut indonesia dan beberapa negara lain ada beberapa hal yang dipertimbangkan secara seksama," ujar menlu marty, di kementerian luar negeri RI, Jakarta, Rabu (3/4/2013).

"Naskah atau draft diajukan di sidang Majelis Umum PBB antara lain menyatakan atau memberikan kesan, bahwa penjualan alusista akan ditentukan atau dipengaruhi oleh kondisionalitas dimana, dikaitkan denganĀ  pelanggaran hak asasi manusia. Penilaian akan diberikan oleh eksportir (pedagang senjata)," jelasnya.

"Bagi kita penetapan kondisionalitas itu berpotensi bertentangan dengan pasalĀ  43 ayat 5 UU NO 16 Tahun 2012 tentang industri pertahanan, yang intinya menyatakan bahwa indonesia dilarangan melakukan import senjata apabila ada kondisionalitas politik," tutur marty.

Menlu menambahkan, hal ini yang harus diperhatikan dan diserasikan antara UU di indonesia dan adanya klausul traktat yang diajukan yang mengesankan adanya kondisi politik dari suatu negara dalam melakukan perdagangan senjata.

Ada kemungkinan sikap abstain indonesia ini akan berubah pada pertemuan lanjutan mengenai pembahasan traktat tersebut. Menurut Menlu, yg dihasilkan dari sidang Majelis Umum PBB belum mengikat. Juni mendatang proses tersebut akan berlanjut.

(faj)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Setiap Hari, SAS Habisi Delapan Anggota ISIS