Penyerangan LP Cebongan Bukan Bermotif Korps

Ilustrasi

Penyerangan LP Cebongan Bukan Bermotif Korps
JAKARTA - Berbagai motif bermunculan terkait penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman yang diduga dilakukan oleh oknum Kopassus yang mengakibatkan empat pelaku penusukan Serka Sentosa di Hugo's Cafe meninggal dunia. Berbagai pihak mengatakan penyerangan tersebut dilakukan karena jiwa Korsa-nya.

Namun, Wakil Ketua Komisi I DPR, Tubagus Hasanuddin membantah bila penyerangan tersebut bermotif Jiwa Korsa. Pasalnya, jiwa Korsa hanya bertujuan untuk saling membangun pengertian dalam menjalan tugasnya.

"Jiwa korsa atau istilah aslinya "l'esprit de corps' semula diperkenalkan oleh ahli strategi perang, jendral besar dan kemudian dinobatkan sebagai kaisar Perancis: Napoleon Bonaparte. Bahwa perang adalah kerja bersama yang terorganisir dengan baik. Agar tiap satuan sukses dalam setiap peperangan, maka dibutuhkan l'esprit de corps yang tinggi," kata Hasanuddin kepada Okezone, Minggu (7/4/2013).

Dia menjelaskan bahwa L'esprit de corps merupakan semangat bekerja sama, untuk saling mengerti tugas masing-masing, saling membantu, saling menjaga, saling melindungi dan saling menolong satu sama lain. Dalam peperangan semangat itu memang sangat diutamakan. Dalam kehidupan sehari-hari di luar pertempuran, jiwa korsa pun merupakan semangat yang bernilai positif.

"Dan itu menjadi sesuatu yang layak untuk dipelihara dan dibina. Tapi jiwa korsa akan menjadi tercela ketika ditempatkan pada situasi yang salah. Untuk itulah, biasanya disamping dipupuk jiwa korsanya, juga harus dipupuk disiplinnya. Disiplin adalah sikap taat dan tunduk pada aturan yang berlaku," imbuhnya.

Sementara kata dia, mengenai kasus penyerangan ke LP Cebongan, dia yakin tak akan terjadi andaikan memiliki disiplin yang tinggi, artinya jiwa korsa tak harus membabi buta merugikan kesatuannya dan juga masyarakat. Berarti kata dia, ada pembinaan yang kurang pas di jajaran TNI. Sehingga diperlukan evaluasi tentang sistim pendidikan di TNI agar jiwa korsa tetap terpelihara tapi disiplinnya juga tetap tinggi. "Dalam kasus LP Cebongan saya tetap tak yakin, kalau motif penyerangan lapas Cebongan hanya sebatas jiwa korsa," jelasnya.

Peristiwa itu kata dia, merupakan ekspresi ketidak puasan masyarakat terhadap penegakan hukum di Indonesia akhir-akhir ini. "Ada semacam perlawanan, yang punya batu ya menggunakan batu, yang punya golok menggunakan golok dan yang punya senjata menggunakan senjatanya untuk melawan ketidak adilan, menjadi hakim di jalanan," imbuhnya.

Oleh sebab itu, presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus meresponnya dengan sungguh-sungguh mengenai penegakan hukum termasuk merajalelanya premanisme karena sudah sampai di titik nadir. (ahm)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Lebih Dekat dengan Hatchback Murah Datsun