Polisi Penembak Kepala RS Bhayangkara Diadili di Peradilan Umum

|

Ilustrasi

Polisi Penembak Kepala RS Bhayangkara Diadili di Peradilan Umum

JAKARTA - Kepolisian RI memastikan bahwa kasus penembakan terhadap Kepala RS Bhayangkara Makassar, Sulawesi Selatan, Kombes Pol Purwadi, yang dilakukan oleh Briptu Ivhak Kiranda, akan disidangkan di peradilan umum.

"Kita proses di peradilan umum. Dia (Briptu Isvak Kiranda) sudah jadi tersangka," ujar Kapolri Jenderal Timur Pradopo di Mabes TNI AD, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (9/4/2013).

Saat ini, lanjut Timur, proses penyelidikan tengah dilakukan dan sudah ditangani oleh Propam dan Direktur Serse Kriminal Umum Polrestabes Makassar. "Semua proses tentunya terus berjalan. Kita tunggu hasilnya," kata Timur.

Timur membenarkan alasan Briptu Ivhak melakukan penembakan kepada Kombes Pol Purwadi karena adanya kesalahpahaman di antara keduanya. Keduanya orang tersebut sudah dilakukan pemeriksaan. "Karena kesalahpahaman, kemudian terus kami lanjutkan pemeriksaan. Sudah diperiksa," tutupnya.

Kesalahpahaman terjadi akibat perluasan RS Bhayangkara yang membuat akses jalan di depan rumah tersangka semakin menyempit. Padahal, perluasan rumah sakit hanya sekira setengah meter.

Tak terima akses jalan menuju rumah menjadi sempit, tersangka menimbun lubang pondasi yang telah digali. Itu dilakukan tersangka setelah anaknya yang masih berusia tiga tahun terjatuh ke dalam lubang galian.

Ulah penimbunan tersangka membuat korban naik pitam dan marah besar. Bahkan, korban pun mencari pelaku dan sempat mengancam akan mengubur pelaku penimbunan. Sayang, tersangka saat itu tidak berada di rumahnya.

Mengetahui dirinya dicari, tersangka pun mendatangi korban. Saat perdebatan, korban sempat menyuruh tersangka agar meninggalkan rumah dinas Asrama Bhayangkara. Tersangka lalu pulang ke rumahnya dan kembali lagi menemui korban di ruang komite etik rumah sakit, seraya memuntahkan tiga tembakan dari senjata api jenis revolver.

Kini, pelaku dijerat dengan Pasal 354, 351, dan 356 KUHP dengan ancaman hukuman penjara 10 tahun. Sementara kondisi korban sudah mulai membaik pasca-operasi pengangkatan proyektil di RS Pelamonia, Makassar. Rencananya, Purwadi akan dipindahkan ke rumah sakit yang dipimpinnya.

(ris)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Tanggap Darurat Gamalama hingga 1 Januari 2015