Remaja Tak Bisa Sekolah Bunuh Diri, Pemkab Tak Serius Urus Pendidikan

Ilustrasi

Remaja Tak Bisa Sekolah Bunuh Diri, Pemkab Tak Serius Urus Pendidikan
POLMAN - Aksi bunuh diri yang dilakukan remaja berusia 13 tahun berinisial AR, warga Desa Tondrolima, Kecamatan Matakali, lantaran frustasi tidak bisa melanjutkan sekolah, merupakan pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar (Polman), dalam hal ini Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora).

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) cabang Polman menilai, pemerintah tidak becus mengurus pendidikan di daerah itu. Slogan pendidikan gratis dan program pengembalian anak putus sekolah yang digaungkan beberapa bulan lalu tidak memiliki konsep matang dan terkesan hanya untuk mengejar prestasi.

“Ini pengembalian anak ke sekolah dan pendidikan gratis kayaknya hanya slogan dan hanya untuk mengejar prestasi nasional. Sebab, fakta yang terjadi, masih ada saja anak yang putus sekolah. Apalagi, disebabkan karena tidak ada biaya,” ujar Ketua PMII Polman, Munawir, Jumat (12/4/2014).

Menurutnya, pendidikan gratis harus disosialisasikan dengan baik hingga ke masyarakat pelosok agar kejadian serupa tidak terulang. Bila ternyata dalam perjalanannya ditemukan banyak anak yang tidak mengenyam pendidikan karena keterbatasan biaya, maka pemerintah melalui aparat desa harus melaporkan ke dinas terkait.

“Kalau ini dilakukan, tentu kasus seperti ini tidak akan terjadi,” tandas Munawir.

Munawir menduga sistem pendataan yang dilakukan pemerintah pada saat program pengembalian anak ke sekolah beberapa bulan lalu yang kurang valid. Kasus AR adalah bukti bahwa masih ada anak yang tidak terdata.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Menengah Disdikpora Polman, Hamka, yang dikonfirmasi terpisah, mengaku sangat menyesalkan kasus bunuh bunuh diri yang dilakukan putri pasangan Nasir dan Hande tersebut. Diakuinya pemerintah setempat sudah memberlakukan pendidikan gratis.

“Kecuali, masalah biaya operasional siswa, kami tidak bisa menanggung. Ada pun dana bantuan siswa miskin (BSM), itukan baru diketahui ketika anak sudah terdaftar disekolah,” ujar Hamka.

Hamka juga menjelaskan, pendataan kasus anak putus sekolah sebenarnya tugas kepala desa (kades). Barulah, data yang ada disampaikan ke dinas pendidikan. "Hal itu, agar kami bisa mengambil sikap untuk menyekolahkan anak tersebut," dalihnya.

Seperti diberitakan, AR sempat dirawat seharian di RSUD Polman setelah meminum racun serangga pada Selasa, 9 April 2013. Namun, nyawanya tidak tertolong lantaran racun sudah menyebar.

Aksi nekat remaja yang bercita-cita menjadi dokter merupakan buntut dari keinginannya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat sekolah menengah pertama yang tak kunjung terealisasi.

Ayah korban bekerja sebagai petani sawit di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, sementara dua kakaknya juga tengah bersekolah dan tidak ingin putus di tengah jalan. Selain itu, AR juga masih memiliki empat orang adik. (ris)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Wakil Rakyat dari Golkar Mengaku Dicabuli Sesama Anggota Dewan