Asal-Usul Orang Nias Berasal dari Taiwan

|

(istimewa)

Asal-Usul Orang Nias Berasal dari Taiwan
GUNUNGSITOLI - Penelitian terbaru mengungkap bahwa penduduk asli orang Nias berasal dari Taiwan. Ini berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan seorang ahli genetika, Manis van Houven.

Houven mengambil sampel DNA dari sekira 900 warga Nias. Hasil pemeriksaan menunjukkan ada kedekatan ke titik akurat bahwa orang Nias sangat dominan mirip dengan genetika orang Taiwan.

Sebelum penelitian ini dilakukan, muncul spekulasi bahwa asal muasal orang Nias berasal dari Eropa atau kepulauan terdekat dengan pesisir pantai barat Sumatera, seperti Kepulauan Nicobar atau Madagaskar.

Hasil penelitian Houven ini setidaknya menjawab berbagai spekulasi tentang asal usul orang Nias.

Penelitian Houven disosialisasikan melalui seminar internasional di Gunungsitoli yang dihadiri kalangan pejabat, seperti wali kota dan bupati. Ada pula para akademisi terkemuka berasal dari Kepulauan Nias. Penelitian ini dimotori Yayasan Pusaka Nias.

Ciri khas orang Nias, terutama dari kawasan Nias Utara, Nias Tengah, dan Kota Gunungsitoli, secara dominan dapat diidentifikasi dengan mudah, yakni berambut hitam, berbentuk oval, berkulit putih, dan berpostur tubuh sedang.

Hal ini berbeda sedikit dengan ciri khas orang Nias yang berasal dari Nias Selatan, terutama asal Teluk Dalam yang memiliki wajah lojong dengan rahang keras dan berpostur tubuh tinggi. Meski demikian, mereka juga berkulit putih seperti orang China namun matanya tidak sipit.

Yohanes Hammerle, pendiri Yayasan Pusaka Nias, mengatakan, orang-orang Nias awalnya berasal dari Gomo, yakni salah satu kecamatan di Kabupaten Nias Selatan, tepatnya di Sifalago-Gomo.

Hal in sejalan dengan hasil penelitian Houven, seorang peneliti spesialis DNA, yang menyebut bahwa salah satu suku bangsa besar, yakni Austronesian telah melakukan ekspansi sejak 5.000 tahun lalu. Sebagian besar suku bangsa tersebut merupakan orang Taiwan atau dahulu bernama Yunan.

Houven menjelaskan, mereka bermatapencarian sebagai petani. Selanjutnya, populasi mereka menyebar luas di seluruh Asia Tenggara, termasuk Sumatera.

Hasil penelitian DNA diketahui bahwa secara dominan orang Nias memiliki jenis golongan darah ‘O’ dan diketahui memiliki karakter yang berbeda antara orang Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, dan kabupaten atau daerah lainnya di Kepulauan Nias. Selanjutnya, dia mengategorikannya sebagai O-M110 dan O-M119.

Hal ini, lanjut Houven, memiliki korelasi terhadap jenis bahasa yang dipakai. Bahasa yang digunakan di Teluk Dalam sangat berbeda dengan bahasa yang dipakai warga di daerah Nias lainnya.

Dijelaskan pula, pengelompokan jenis karakter genetika tersebut, yakni Y-chromosome haplogroups, ditemukan bahwa genetika dengan tanda berwarna kuning di dalam lingkaran merupakan jenis karakter yang dominan di Pulau Nias. Ini berbeda dengan daerah di Teluk Dalam yang ditandai dengan warna merah.

Jenis karakter warna kuning tersebut juga menyebar di berbagai daerah di Asia Tenggara, terutama Taiwan dan Filipina. Namun, diketahui bahwa Taiwan lebih dominan setelah dilihat dari berbagai pendekatan lainnya.

Daerah Sifalago-Gomo di Nias Tengah, yang diketahui tempat awal orang Nias mulai ada, dalam penelitian ini juga diketahui bahwa sangat didominasi tanda genetika berwarna kuning. Dari sini diketahui bahwa orang Nias umumnya memiliki kemiripan dengan genetika orang Taiwan.

Houven menjelaskan, penelitian ini sudah dimulai beberapa tahun lalu sejak dia bertemu dengan Yohanes.

Dengan demikian diketahui bahwa orang-orang Nias berasal dari dua sumber yang ditandai dengan jenis O-M110 (orang Teluk Dalam, Nias Selatan) dan O-M119 (orang Nias pada umumnya).

Tokoh Nias, Budiaman Gea, mengakui bahwa selama ini persoalan asal usul orang Nias merupakan isu hangat dan kontroversial. Saat ini, seluruh peserta ataupun orang Nias yang hadir di seminar tersebut baru menyadari asal usul mereka.

Sementara itu, penelitian arkeologis, berupa benda-benda purbakala yang ditemukan di Gua Togi Ndrawa, Gunungsitoli, mengungkap gua tersebut telah dihuni oleh manusia sejak 12 ribu tahun lalu. Ini terlihat dari benda-benda purbakala yang ditemukan dan sudah dipublikasikan oleh peneliti-peneliti arkeologi.

Lantas di manakah orang-orang penghuni Gua Togi Ndrawa? Mengapa mereka menghilang? Apakah mereka punah akibat gempa atau lainnya? Ini masih menjadi misteri. Usut punya usut, seperti hasil penelitian Houven bahwa sehingga 7.000 tahun setelah adanya fakta orang gua, muncul orang Austronesian. Mereka sampai saat ini dikenal sebagai penduduk asli Nias.
(ton)

berita terkait

foto & video lainnya

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Solusi Mencegah Terjadinya Kekerasan di Sekolah