Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

7 Siswa Serahkan Patung SBY Terbuat dari Lumpur Lapindo

Susi Fatimah , Jurnalis-Senin, 29 April 2013 |15:26 WIB
7 Siswa Serahkan Patung SBY Terbuat dari Lumpur Lapindo
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
A
A
A

JAKARTA - Sebanyak tujuh siswa yang berasal dari Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah di Sidoardjo, Jawa Timur, menyerahkan patung bergambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke pihak Istana Negara Jakarta. Namun, patung yang diberikan bukan sekedar patung, patung tersebut terbuat dari lumpur Porong, di Sidoardjo, Jawa Timur hasil kreasi mereka.

Mereka sengaja datang ke Jakarta untuk memberikan patung tersebut kepada orang nomor satu di negeri ini. Hal itu mereka lakukan dalam rangka memperingati 2.525 hari kasus Lapindo yang terkatung-katung. Selain patung, mereka juga menyerahkan sepucuk surat untuk SBY.

Koordinator aksi, Abdul Haris Balubun, mengatakan surat dan patung tersebut diberikan kepada seorang petugas keamanan Istana Merdeka.
"Tadi sudah diserahkan, mereka janji akan sampaikan kepada SBY," ujarnya di depan Istana Merdeka Jakarta, Senin (29/4/2013).

Abdul menjelaskan dalam surat tersebut para siswa perwakilan itu menyampaikan perasaan dan harapan mereka kepada SBY, khususnya keinginan teman-teman mereka untuk kembali ke bangku sekolah. Pasalnya, sekolah tempat mereka menuntut ilmu tujuh tahun ini masih terendam lumpur.

"Inti suratnya minta perhatian dari presiden tentang pendidikan mereka. Mereka masih yakin akan masa depan mereka. Mereka tidak mau terkatung-katung nasibnya. Nasib mereka terancam lumpur," tuturnya.

Lebih lanjut Abdul mengatakan bahwa sejak sekolah mereka terendam lumpur, mereka harus mencari sekolah dengan lokasi yang jauh hingga berkilometer. Bahkan, kebanyakan mereka memutuskan untuk putus sekolah. Berdasarkan catatanya, sebanyak 33 sekolah terendam lumpur, dan hingga kini tidak jelas kapan akan kembali.

Menurut Abdul, persoalan lumpur Lapindo bukan hanya persoalan ganti rugi lahan, namun dampak ekonomi, sosial, dan budaya juga penting.

"Ganti rugi tidak jelas ganti rugi apa. Ganti rugi hanya sebagai pencitraan saja. Yang penting itu adalah masalah ekonomi, sosial, budaya yang hilang, itu bagaimana? Kita bukan hanya bicarakan ganti rugi lahan tapi juga bagaimana lingkunganya, masa depan generasi mudanya bagaimana," tuturnya.

Tak hanya itu, sambung Abdul, persoalan lainnya adalah adanya pergesekan antar warga Porong, Sidoardjo sendiri. Mereka mulai berkubu-kubu dan saling sikut. "Mereka ada yang berpaling ke Bakrie, ada juga yang masih tetap pada pendirian memperjuangkan," kata Abdul.


(Carolina Christina)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement