Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

May Day Perlawanan Buruh, Bukan Gerakan Lobi

Carolina Christina , Jurnalis-Selasa, 30 April 2013 |14:45 WIB
<i>May Day</i> Perlawanan Buruh, Bukan Gerakan Lobi
Ilustrasi (Foto: okezone)
A
A
A

JAKARTA - Pertemuan buruh dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kemarin yang membuahkan keputusan menetapkan hari buruh Internasional sebagai hari libur nasional, menuai kritik.

Sekretaris Departemen Tenaga Kerja, PDI Perjuangan Jeppri F Silalahi mengatakan, seharusnya hasil pertemuan pimpinan serikat buruh dengan SBY kemarin adalah kepastian kesejahteraan buruh dan membatalkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebab dengan kenaikan harga BBM dipastikan akan semakin memperberat kehidupan buruh.

"Hasil pertemuan ini merupakan pengkhianatan dan melenceng dari apa yang diperjuangkan oleh seluruh buruh selama bertahun-tahun, dan ini bentuk pembodohan yang dilakukan pemerintah untuk pencitraan," ujarnya melalui pesan singkatnya kepada Okezone, Selasa (30/4/2013).

Menurutnya, yang dibutuhkan buruh saat ini bukanlah mendapatkan hari libur, melainkan kesejahteraan, mendapatkan jaminan sosial, mendapatkan perlindungan dan kebebasan untuk berserikat.

"Untuk apa libur satu hari, jika sengsara di hari-hari berikutnya akibat kenaikan harga BBM," tegasnya.

Menurut dia, sebenarnya pada era pemerintahan Soekarno tanggal 1 Mei adalah hari yang diperingati secara nasional dan disahkan menjadi libur nasional melalui UU No.1 tahun 1951 dimana disebutkan pada hari 1 Mei buruh dibedakan dari kewajiban bekerja.

"Mari kembalikan hari buruh sebagai hari perjuangan kaum buruh, bukan kongkalingkong pimpinan serikat buruh dengan pemerintah dan kaum cukong," tegasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh pengamat politik Universitas Indonesia, Ibramsjah. Dirinya menilai pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan serikat buruh kemarin ada upaya untuk membungkam gerakan buruh.

"Pasti adalah ke arah sana, membungkam gerakan buruh. Karena gerakan buruh merupakan gerakan besar yang bisa mengancam," ujarnya saat dihubungi Okezone, Selasa (30/4/2013).

Menurut Ibramsjah, hari buruh Internasional jangan hanya dijadikan sebagai peringatan seremonial saja melainkan harus menjadi gerakan perlawanan yang bisa mensejahterakan buruh itu sendiri. 

(Carolina Christina)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement