Demokrat Era SBY Seperti Kepemimpinan Usman bin Affan

|

Demokrat Era SBY Seperti Kepemimpinan Usman bin Affan
JAKARTA - Mantan Sekretaris Departemen Agama DPP Demokrat, Makmun Murod Al-Barbasy menilai praktek nepotisme yang terjadi di partai besutan SBY itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.
 
Makmun yang merupakan loyalis Anas Urbaningrum ini mengibaratkan kepemimpinan Demokrat dibawah Susilo Bambang Yudhoyono seperti kepemimpinan Khalifah Usman bin Affan.
 
"Pemerintahan Khalifah Usman bin Affan bisa jadi contoh faktual pemerintahan nepotis. Akibat ketidakmampuannya kendalikan praktek nepotisme, Usman tidak hanya meninggal secara sadis dan berdarah-darah, tapi juga pemerintahannya keropos dan bobrok," ujar Makmun dalam pesan singkatnya, Rabu (1/5/2013).
 
Seharusnya, lanjut Makmun, jika Demokrat ingin tetap eksis maka harus bercermin dari kisah Usman itu. "Tapi rupanya Demokrat benar-benar tidak mau menjadikan kasus Usman sebagai pembelajaran," katanya.
 
Makmun mengatakan bukti paling faktual adanya praktek nepotisme dalam tubuh partai berlambang bintang mercy itu adalah saat penyusunan daftar caleg yang jauh dari proporsional dan penuh kedzaliman.
 
"Banyak keluarga atau kroni Bani Cikeas yang jauh dari layak untuk menjadi caleg namun menempati nomor peci, sementara banyak kader partai yang selama ini telah bekerja keras besarkan partai ditempatkan di nomor urut yang jauh dari proporsional. Apa tindakan ini bukan kedzaliman?," tegasnya.
 
Praktek nepotisme seperti ini, sambung Makmun tidak bisa dibiarkan. Pembiaran atau ketidakmampuan mengendalikan praktek nepotisme bisa berakibat fatal bagi keberlangsungan Demokrat di Pemilu 2014.
 
Ma'mun menyebutkan caleg-caleg yang dianggap tidak layak namun justru mendapat posisi di partainya, seperti:
 
1. Lintang Pramesti, dr. gigi yang baru lulus, dan bukan seorang pengurus serta tidak memiliki kontribusi bagi partai dan tidak berlatarbelakang aktifis bisa menempati nomor dua di Dapil Jawa Barat VIII.
 
"Sementara Muh. Syukri seorang aktivis, pengurus harian partai, kontribusinya besar buat partai dan selama ini sudah bangun basis di Dapil hanya ditaruh di nomor tiga," kata Makmun.
 
2. Wahab Dalimunthe, peraih suara terbesar di Sumut 2009 hanya dapat nomor urut lima, Ramadhan Pohan hanya nomor empat. Sementara nomor satu justru Ruhut Sitompul.
 
3. Mexicana Wibowo yang mendapat Dapil DKI Jakarta I tiba-tiba saja muncul. "Bandingkan dengan Carrel, pengurus harian dan aktivis partai justru tidak masuk daftar caleg.”
 
4. Astuti Wulandari mendapat nomor urut tiga. Bandingkan dengan Mirwan Amir, pendiri Partai Demokrat di Aceh ditempatkn secara tidak terhormat.
 
5. Salah satu Ketua DPP Demokrat, Pasha, harus turun ke nomor urut dua karena nomor satu harus ditempati oleh Inggrid Kansil yang merupakan istri dari Ketua Umum Harian Demokrat Syarif Hasan yang juga menempati nomor urut satu.
(ful)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kondisi Kesehatan BJ Habibie Berangsur Pulih