Cerpen

Dia Seorang Kekasih

Kamis, 02 Mei 2013 10:22 wib | -

Dia Seorang Kekasih KALAU saja sepuluh tahun yang lalu aku punya keberanian untuk melamar Nafis, mungkin hari-hariku tidak dipenuhi dengan penyesalan seperti sekarang ini. Penuh dengan kebosanan dan hambar meski sekarang bersamaku seorang istri yang cantik dan berbakti, Retno namanya, serta putra tunggalku yang menggemaskan, baru berumur 4 tahun, Arsetya Nagari
 
Beberapa bulan  lagi mungkin dia akan memilliki seorang adik. Dokter mengatakan kemungkinan adalah perempuan. Bagiku laki atau perempuan sama sajalah seberapapun dokter meramal dengan alat super canggihnya. Ia tetap merupakan titipan ilahi, yang harus dijaga dan dirawat dengan kasih sayang, hanya doa yang  selalu kupanjatkan sehabis sembahyang untuk Retno dan putriku akan keselamatanya.
@@@
 
Pernikahanku dan Retno kini sudah menginjak tahun ke-5, hari-hariku bersama Retno dilalui dengan kehangatan dan harmonis, karena dia orangnya pengertian, kalau orang mengatakan, keluarga kami langgeng, hingga sebelum saat-saat terakhir ini. Menjelang kelahiran putri kami, calon adik Arsetya.
 
Sering kurasa ada yang mengganjal di hati, perasaan yang sensitif. Kala malam aku sering bermimpi bertemu dengan mantan pacarku masa SMA, Nafis, dengan gaun pengantin yang nampak indah dia di pelaminan bersama seorang lelaki yang tak kukenal. Dia Nampak begitu anggun namun raut mukanya murung. Ketika aku hendak mendekatinya dan berusaha mendekatinya dia lenyap seketika. Disaat itulah aku selalu terbangun, dan begitu selalu mimpi itu berulang-ulang beberapa malam ini.
 
@@@
Jam dinding kamarku menunjukkan pukul 05.00 WIB, segera kubangkit dari tidurku. Mengambil air wudlu dan salat. Olahraga pagi sebentar, dan setelahnya belajar mempersiapkan pelajaran untuk hari ini. Sampai 5.45 WIB aku masih punya waktu untuk bersiap-siap berangkat.
 
Jarak dari rumahku hingga sekolah sekitar 13 kilometer. Dari rumahku sendiri aku harus berjalan kaki sekitar 15 menit hingga ke pemberhentian bus antar kota dalam provinsi. Dari kecamatanku bus memerlukah waktu 20-an menit untuk sampai sekolah.
 
“Udah belajar Sean ?,” tanya Nafis.
Aku gugup,” Eee, Eeem.. Iii,  Iyya Fis udah.
“PR Bahasa Inggris, udah kamu kerjain semua, ajarin aku dong Sean? Kamu kan kalau soal Bahasa Inggris paling jago.”
 
Batin jahilku,” hemmh, ini dia kesempatanku bisa deketin Nafis.” Meskipun aku juga tahu kalau dia sudah punya pacar. Pacarnya anak kuliahan di sebuah universitas di ibu kota. Kalau saja Nafis belum punya pacar aku pasti bisa lebih bebas dekat denganya karena kami memang satu kelas dan tiap hari bertemu.
 
“Fis, kalau aku boleh tanya kenapa gak kamu minta diajarin sama pacarmu yang anak kuliahan itu?” sembari duduk di sampingnya aku bertanya.
 
Sejenak bola matanya yang bening dan hitam kelam, mengintari dinding-dinding kelas yang sebagian catnya kusam. “Aku udah putus sama dia Sean.”
“Loh kenapa?,” aku timpali dengan nada sedikit meninggi.
 
Belum juga pertanyaanku terjawab bel tanda masuk berbunyi dengan nadanya yang khas dan kalau kupikir malah lebih mirip seperti bunyi penjual es-krim. Sejak percakapan terakhir kami itu, hubungan kami berlanjut hingga berpacaran namun backstreet.
 
@@@
Detak jantungku kurasakan semakin cepat, aku agak grogi di Ujian Nasional hari pertama. Inilah penentuan hasil kerja keras belajar kami, setelah beberapa bulan mempersiapkan semuanya dengan bersungguh-sungguh belajar diiringi dengan doa.
 
Memang setelah kejadian perkelahian antara temanku Budi dengan seorang siswa dari sekolah sebelah beberapa bulan lalu, kami semua sadar bahwa itu semua hanyalah cobaan yang diberikan oleh Tuhan akan kesungguhan kami dalam menuntut ilmu.
 
Semua kurasa sudah lengkap tinggal Nafis yang nampaknya belum hadir di antara kami, segera aku mulai memimpin doa pagi ini sebelum memasuki ruang ujian  tepat di depan papan bertuliskan “HARAP TENANG ADA UJIAN.”
 
“Sean.. Sean.” dari kejauhan nampak  berlari ke arah kami dengan nafas tersenggal. Tenyata Budi, dia terlambat, tadi aku kurang memperhatikan jumlah teman yang hadir.
“Ayo Bud, sini gabung kamu udah telat, ini acara doanya udah mau dimulai” ajakku seraya melambaikan tangan tanda mengajak bergabung.
 
“Sob ada kabar buruk,” dengan terengah-engah Budi berucap dengan nada terputus-putus. “Ada apa Bud ?,” tanya salah seorang teman.
“ Anu, Nana.. nnn.. Nafis
“Kenapa dengan Nafis,” tanyaku melebihi kepanikanku menjelang ujian. Aku sangat khawatir mengigat dirinya yang nampaknya kurang ceria seperti hari-hari biasanya beberapa minggu terakhir ini. Bahkan sudah jarang kami berbicara asyik dan pulang bareng seperti biasanya.
 
Dengan suara yang mulai tidak gagap Budi melanjutkan ucapannya yang terpotong.“ tadi pagi saat mau berangkat mampir ke rumah Nafis karena dipesani oleh ibunya dan diititipi surat. Makanya aku telat karena mampir kantor panitia.”
“Trus ?, tanyaku penasaran”
“Ya, udah gitu aja jadi aku telat deh,” jawab Budi sepele.
 
“whuuuuu,” teriak teman-teman sekelas sambil menjitaki kepala Budi sekenanya”
Emang Budi orangnya sangat kocak dengan wajah mirip donat yang super kocaknya pula, tanpa melucu pun ia sudah bisa membuat orang ketawa.
 
“Bud, serius jangan becanda, ini sebentar lagi udah mau ujian” gimana keadaan Nafis sampai sekarang belum datang?” tak sabar aku menunggu jawaban Budi.
“Sebenarnya aku kurang tahu Sean, aku hanya dititipi surat ibunya Nafis dan kusampaikan pada panitia ujian. Tapi yang kulihat di rumah nafis banyak kerabatnya yang berkumpul di sana. Aku tahu karena rumahku kan dekat. Tadi Ibunya juga mengatakan mohon didoakan saja semoga dia bisa segera kembali ke sekolah.”
@@@@
 
Hingga Ujian hari terakhir masih juga belum ada berita tentang Nafis. Rasa khawatirku mulai tak tertahankan. Sepulang sekolah aku langsung mengajak Rita, sahabat dekatnya untuk menyambangi rumahnya.
 
Terlepas dari itu semua sebenarnya aku sangat merindukan masa-masa pacaran kami, mirip seperti pacarannya orang culun. Disaat masih sekelas kami sering beradu pandang di dalam kelas hingga beberapa lama, hal itu mudah kami lakukan karena tempat dudukku tepat di sebelah kirinya sederet di urutan bangku nomor 3 dari depan dan hanya terbatasi satu orang, yaitu di sebelah kiriku sebangku denganku Budi. Aku tidak memilih tepat duduk di sampingnya agar nampak tidak begitu mencolok di kelas.
 
Dari sekolah sampai rumah Nafis, perlu waktu 45 menit setelah ganti kendaraan umum dua kali. Dan masih jalan kaki lagi sekitar 15 menit. Jika dibandingkan denganku maka Nafis lebih lama butuh waktu untuk ke sekolah, yaitu tepat satu jam, namun herannya dia selalu datang tepat waktu.
 
“Sean, kalo di rumahnya tidak ada orang lagi gimana? Soalnya akupun kemarin setelah ujian pertama selesai sempat mau jenguk, gak ada seorangpun. Malah tetangganya yang nemuin.” Rita mencoba menanyaiku setengah menyelidik.
“Yah , akan aku cari info sampai tahu Nafis di mana.”
“Kok kamu peduli banget sama Nafis sih?, tanyanya lagi”
“Dia kan teman sekelas kita, jawabku singkat.”
 
Perjalanan kami di siang terik ini terasa semakin panjang karena panas dan kering debu ditengah-tengah siang ini. Terlebih pepohonan di kanan-kiri jalan yang tidak begitu rimbun. Sesampai di rumahnya langsung kuketuk pintu, namun tidak ada jawaban dari dalam. Kucoba lagi hingga beberapa kali.
 
Baru aku tahu ternyata ada bel-nya disebelah kiri atas pintu, hehe..
Tanpa komando segera Rita pencet bel-nya. Tinggi badanya memang lebih tinggi dariku, kalau untuk ukuran cewek yah; sudah pantas jadi model.
Tetap saja tidak ada jawaban dari dalam rumahnya Nafis, meski sudah berkali-kali diketuk dan dibel.
 
Beberapa saat kemudian seorang tetangganya ibu-ibu ada yang  lewat. “Dik, Pak Sutomo Sekeluarga sudah beberapa hari ini tidak ada dirumah.”
“Lha memang, di mana Pak?” tanya Retno.
“Mereka semua di Rumah Sakit Sudirman di ibu kota, mereka pindah ke sana. Dengar-dengar sih putri sulungnya, Nafis sedang dioperasi.
“Innalillahi wainnailaihi Rojiun”
 
Lututku langsung lemas, seakan tersengat listrik 1.000 watt aku mendengarnya. Benarkah apa yang kudengar ini Fis? Benarkah kamu sedang dioperasi, sakit apa gerangan yang menyerangmu. Semoga kita bisa sama-sama lagi di sekolah.
 
Aku ingin memandang bola matamu yang indah dan bening lebih lama, Karena aku tahu tiada kebohongan di sana.Tapi besok adalah ujian terakhir.
“ Nafis. Aku sayang sama kamu,” jeritku keras dalam hati”
“Semoga kamu lekas sembuh apapun sakitmu itu.”
@@@
 
Hari-hariku disekolah selalu dipenuhi dengan kagalauan dan sedih jika membayangkan Nafis yang sedang berada di suatu ruang bangsal rumah sakit dengan tangan yang tertancap jarum infus, untuk menggantikan makanannya.
 
Tak lupa ku selalu berdoa disela-sela sehabis selesai sembahyang. Di malam-malam yang dingin kusempatkan bangun malam khusus mendoakan atas kesembuhannya. Namun tetap saja aku belum punya keberanian untuk membesuknya, aku tidak akan tega melihat orang yang sangat kusayangi tergolek lemah dan sakit di depan mataku. Tapi sudah kubulatkan tekadku. “Besok aku mesti ke Rumah sakit membesuk Nafis, aku nggak mau menyesal seumur hidupku.”
@@@
 
“Mas kok ngelamun, awas kesambet loh pagi-pagi gini. Ini udah aku buatin kopi susu manis kesukaan mas.” Setengah kaget aku menoleh.
 
Retno memang istri yang sangat pengertian, keibuan dan penyayang keluarga. Tidak sekalipun ia menunggu untuk diminta suaminya tetapi selalu mengerti kebiasaan. Tidak pula rumah terbengkalai dan mengantar sekolah Arsetya meski bagaimanapun sibuknya dia di toko butiknya.
 
Walaupun kami sebenarnya memiliki seorang pembantu yang sudah sepuh, namanya Mbok Isah. Sehari –hari ia yang momong Setya saat kami berdua diluar rumah. Selain itu tugasnya hanya yang ringan - ringan saja, ia tidak pernah memperlakukannya semena - mena layaknya pembantu. Malah sering mengajaknya pula makan semeja layaknya keluarga. Itu yang selalu membuatku terkagum - kagum
 
Aku sangat beruntung memiliki istri sebaik dirinya, tidak akan sekali- kalipun aku menyia- nyiakanya. Kami sudah saling mengenal semenjak Kuliah Kerja Nyata, karena menjadi satu posko dia adalah dari jurusan desain busana, dan aku dari hukum. Sangat berbeda, namun entah kenapa hanya butuh waktu yang tidak lama hingga akhirnya kami akrab dan pacaran sebentar, lalu 6 bulan kemudian kami memutuskan untuk segera mengakhiri masa pacaran dan mengikat komitmen menuju pernikahan, bersamaan setelah acara pelepasan wisudawan aku melamarnya.
 
Begitu cerita cinta singkatku dengan Retno. Yang mungkin karena digariskan berjodoh oleh Tuhan. Selang satu tahun lahirlah putera pertama kami, Arsetya.
@@@
 
“Oiya mas, pagi ini katanya ada janjian dengan klien ya, yang minggu lalu nelpon ke nomor rumah?”
“Aduuh, aku bener- bener kelupaan dek, makasih udah ngigetin. Kamu masih ingat nama klien itu, soalnya kamu kan yang nerima telponnya? ”
 
“Dia nggak mau menyebutkan nama terangnya mas, hanya bilang hamba Allah gitu saja. Soalnya akta tanah yang akan dia urus ini katanya ada hubunganya dengan wakaf yang akan dia lakukan.”
 
Mobil Honda Jazz warna silver-ku di garasi segera aku panaskan sebentar dan kutinggalkan mandi. Sedangkan Retno manyiapkan segala surat-surat dan kelengkapan yang aku perlukan untuk ke kantor. Padahal aku tahu kalau dia sama sekali tidak begitu menahu tentang masalah kenotarisan. Tapi itulah kelebihannya dia, yang selalu serba bisa. Menjadi sekertarisku sekalipun.
 
Selesai mandi dan semua persiapan selesai aku segera mengambil tas yang sudah disiapkannya diatas meja. “Tadi aku udah nelpon dik Prasetyo, resepsionis di kantor, kupesani kliennya mas menunggu kalau-kalau terlambat sampai kantor.”
Kukecup kening Retno sebelum berangkat, dan tak lupa memeluk Setya. Segera aku jalankan mobilku melaju menuju kantor notarisku.
@@@
 
Kantorku memang tidak pernah sepi karena satu-satunya di kota kecil ini, banyak orang yang selalu memakai jasa kami untuk membuatkan surat resmi berdasarkan hukum yang sah atas kepemilikan tanahnya. Sederhananya adalah akta atau sertifikat tanah. Di kota kecil ini kantor sejenis ini masih awam. “Kali ini pasti ia orang kaya dermawan yang akan mewakafkan tanahnya untuk kemaslahatan masyarakat,” pikirku.
 
@@@
Mobilku sudah sampai tepat di depan kantor, segera kutempatkan pada parkiran.
Ternyata si klien belum sampai di kantor, sepertinya dia yang agak sedikit terlambat. Segera kubergegas menuju ruang kantorku. Baru ada Pras dan beberapa pegawai serta cleaning service. Kantorku memang sederhana. Aku hanya mempekerjakan beberapa pegawai saja termasuk Prasetyo yang kurekrut. Dia adalah adik angkatanku sewaktu di kampus yang rajin dan cerdas.
 
Deru suara mobil yang cukup halus kudengar berhenti di parkiran depan. Suaranya terdengar sampai di ruanganku, keadaan kantor yang pagi itu sepi.
Telpon berdering, terdengar suara dari seberang, ternyata dari Pras di lobi.
“Pak klien bapak sudah datang.”
“Suruh langsung masuk saja Pras, bilang sudah aku tunggu”
“Iyya Pak”
 
Kututup telepon. Beberapa saat kemudian terdengar pintu diketuk. “Silahkan masuk !” aku masih memeriksa beberapa berkas penting. Seorang wanita dalam balutan gamis muslimah berenda warna-warni, dengan jilbab warna cokelat muda, masuk dan berucap salam kepadaku.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikum salam ”
 
Aku terperangah melihatnya. Sangat tidak asing sekali wajahnya. Dia sama terkejutnya saat melihat wajahku, seulas senyuman menyungging di wajahnya.
Kami saling bertatapan beberapa saat.
“Nafis…”
 
(Setetes bening kembali menetes di pipiku untuknya, kali ini tetes haru bercampur bahagia; dan perasaan yang bercampur aduk).
 
Oleh Muhammad Nawawi
Email muh_nawawi@yahoo.co.id
085726705036
 

(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)

(//ful)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »