KontraS Kecam Penembakan Warga di Sorong

Sabtu, 04 Mei 2013 16:05 wib | Fahmi Firdaus - Okezone

Ilustrasi (Foto: Dok Okezone) Ilustrasi (Foto: Dok Okezone) JAKARTA - Koordinator Badan Pekerja Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekeran (KontraS) Haris Azhar mengecam keras penembakan dan penangkapan yang diduga dilakukan oleh aparat pada tanggal 30 April 2013 lalu.

Penembakan itu diduga terkait aksi damai 1 Mei di Papua untuk memperingati 50 tahun penyerahan adminsitrasi West New Guinea atau yang sekarang dikenal Papua.

"Pembubaran paksa dan ancaman aparat dengan melakukan penembakan terhadap demonstran telah melanggar hak kebebasan berkumpul dan berekspresi,"kata Haris di Kantor KontraS Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (4/5/2013).

Kontras menilai, pelarangan tersebut menunjukan sikap reaksioner sekaligus diskriminatif pemerintah yang membatasi hak sipil dan politik rakyat Papua.

"Selama catatan KontraS dari tahun 2013 terdapat 700 kasus kekerasan di Papua. Di mana 100 di antaranya merupakan peristiwa penembakan dengan 45 orang tewas," ungkapnya.

Sekadar diketahui, penembakan di Sorong menewaskan dua warga, yakni Abner Malagawak, 22 tahun dan Thomas Blesia, 28 tahun. Keduanya ketika itu sedang berada di posko Papua Merdeka di Distrik Aimas, Sorong.

Penembakan tersebut juga melukai tiga orang. Korban luka adalah Salomina Klaivin, 37 tahun; Herman Lokden, 18 tahun, warga kampung Wulek; serta Andreas Sapisa, 32 tahun, warga Distrik Makbon. Salomina Klaibin terluka di perut, Herman Lokden di betis kanan, sedangkan Andreas Sapisa di jari kaki.

Penyerangan tersebut berlangsung menjelang peringatan Hari Integrasi Papua 1 Mei 2013.
(ded)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »