Kisah Sengsara 40 Buruh Pabrik Kuali Disiksa di Satu Ruangan

Ilustrasi (Foto: okezone)

Kisah Sengsara 40 Buruh Pabrik Kuali Disiksa di Satu Ruangan
JAKARTA - Aksi penyiksaan terhadap para pburuh pabrik kuali di Tangerang, Banten, mengundang kecaman dari berbagai pihak. Sangat disayangkan tak ada pihak terkait yang tahu adanya tindak kriminal di pabrik milik Juki itu.

"Tadi malam, sebelum pemulangan, ada sekira 20 orang yang bercerita bahwa di sana ada dua orang yang diduga anggota Brimob yang ikut mngamankan tempat kerja tersebut. Bahkan mereka sempat melepas satu kali tembakan peringatan yang diarahkan ke dekat kaki mereka. Ada yang memberikan intimidasi psikologis agar tidak kabur," ujar Yati Andriyani, Bagian Advokasi dan HAM KontraS, saat berbincang dengan Okezone.

Yati yang turut dalam penggerebekan pabrik kuali pada 3 Mei lalu itu menyayangkan cerita tersebut baru mereka sampaikan saat pemeriksaan berkas perkara sudah selesai. "Mungkin saat itu, mereka masih trauma dan dalam keadaan ketakutan," ungkap Yati.

Yati mengungkapkan, kondisi yang ia temukan di lapangan sangat memprihatinkan. Dia memaparkan para buruh ditempatkan di kamar ukuran 4x6 meter untuk 40 orang dengan kondisi kamar pengap dan lembab, tidak ada ranjang.

"Hanya dengan alas tikar kumuh, satu kamar mandi dengan satu bak untuk air. Bahkan air di kamar mandi itu bisa mengalir ke kamar," kenang Yati.

Yati juga bercerita, saat para buruh ini ditemukan, hampir dari mereka tidak mengenakan baju. Kalau pun ada, lanjut Yati, kaos yang mereka gunakan sudah kumal dan tidak layak pakai.

"Ada satu anak yang hanya menggunakan handuk kecil. Pas saya tanya bajunya mana, dia menjawab bajunya basah. Mereka hanya punya satu pakaian dan itu digunakan sampai tiga bulan. Pemilik pabrik menyita pakaian dan barang-barang milik mereka disita sehingga mereka kesulitan untuk bersosialisasi," terang Yati.

Yati juga mengungkapkan kondisi badan mereka penuh dengan luka lebam dan luka bekas terkena limbah timah dan alumunium. Saat ditemukan, lanjutnya, semua hanya diam saling melihat dan ketakutan. Mereka makan dengan nasi sisa, tempe dan sambal yang ada di dekat mereka.Bagian Advokasi dan HAM KontraS Yati Andriyani

Yati menambahkan, para buruh ini mulai bekerja pada pukul 05.30 WIB sampai 22.00 WIB dengan target 22 panci dalam satu hari. "Kalau tidak, akan dapat hukuman dan penganiayaan. Jika mereka bekerja lambat, mereka akan menerima pukulan dan tamparan. Rambut mereka sudah tampak kaku dan mereka mandi menggunakan sabun colek. Saya benar-benar ingin menangis melihat kondisi kala itu," tutup Yati.
(lam)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Demokrat Sindir Slogan "Kerja..Kerja..Kerja" Jokowi