Konvensi Partai Demokrat Peluang Runtuhkan Gerontokrasi

Senin, 13 Mei 2013 02:44 wib | Misbahol Munir - Okezone

Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone) Ilustrasi (Foto: Dok. Okezone) JAKARTA - Apakah 2014 yang akan datang adalah awal, kelanjutan atau akhir dari gerontokrasi?  
 
Menurut Board of Advisor Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Jeffrie Geovanie, jawabannya bergantung pada keberhasilan konvensi capres Partai Demokrat. Sebab, konvensi capres Partai Demokrat, membuka ruang yang leluasa dan elegan buat figur-figur muda seperti Gita Wiryawan, Mahfud MD, Dino Patti Jalal, Chairul Tanjung, Irman Guzman, Marzuki Alie dan tokoh muda lainnya.
 
Kata dia, figur-figur tersebut dapat memperkenalkan dirinya dan menunjukkan kiprah dan kualitas personalnya secara maksimal pada publik pemilih di negeri ini.
 
“Dominasi nama-nama 4 L (lu lagi lu lagi), akan tergerus dan perlahan dilupakan orang, saat figur-figur muda peserta konvensi capres Partai Demokrat mulai menyita perhatian publik karena aktifitas mereka sebagai peserta konvensi capres Partai Demokrat,” kata Jeffrie, Minggu (12/5/2013).
 
Oleh sebab itu, kata dia, publik tak harus pesimis dengan kontestasi Pilpres 2014 mendatang. Sebab, tidak menutup kemungkinan wajah lama tak akan ikut tampil dalam Pilpres tersebut.
 
“Jadi jangan dulu cepat pesimis bahwa 2014 akan hanya di isi wajah-wajah 4L, jangan-jangan tidak satu pun dari wajah-wajah 4L itu nongol pada Pemilu Capres 2014,” jelas dia.
 
Sementara, kata Peneliti Maarif Institute for Culture and Humanity, Endang Tirtana, mengatakan bahwa gerontokrasi, yang diadopsi dari bahasa Inggris "gerontocracy" merupakan praktek sejak jaman Yunani kuno yang berarti sebuah kekuasaan yang dipimpin oleh mayoritas kaum tua.
 
Menurut dia, tidak hanya Yunani,banyak budaya politik di berbagai negara juga menjalankan praktik ini. Dan meski misalnya tokoh tua tidak menjabat secara formal,namun mereka tetap menjadi pengendali kuasa, misalnya di Cina, Iran, Kuba, Rusia dan lain-lain.
 
“Tapi banyak fakta sejarah yang membuktikan bahwa bukan tidak mungkin bahwa kepemimpinan bisa diambil oleh anak muda idealis. Negara demokrasi seperti Amerika Serikat misalnya dengan naiknya John F Kennedy (43) atau yang lebih muda Theodore Roosevelt (42), atau Atifete Jahjaga Presiden perempuan dari Kosovo di usia 36 tahun,” tegasnya.
 
Tidak hanya itu, misalnya kata dia, upaya mendukung anak muda terlibat dalam politik ditunjukkan oleh Walikota Palestina yang menunjuk Bashaer Othman, seorang remaja putri berusia 16 tahun untuk menggantikan posisinya selama dua bulan.
 
“Indonesia sendiri memiliki Presiden muda tahun 1945 yakni Ir Sukarno (44). Jadi, dengan tampilnya wajah-wajah segar dalam kancah Capres 2014, diharapkan dapat mewarnai lagi perpolitikan di tanah air. 4 L (lu lagi lu lagi), apalagi jika ditambah tokoh 4 L ini bukan tokoh yang tegas untuk memberantas korupsi dan penuh rekam jejak yang kurang baik, maka apatisme pemilih akan semakin tinggi, dan institusi politik kita akan semakin suram,” pungkasnya.
(hol)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »