Candi Kidal Simbol Perjuangan Pembebasan dari Perbudakan

|

Candi Kidal berdiri kokoh di Desa Rejokidal (foto: Hari Istiawan/Okezone)

Candi Kidal Simbol Perjuangan Pembebasan dari Perbudakan

MALANG - Bangunan terbuat dari batu andesit yang dikenal dengan sebutan Candi Kidal sore hari terlihat kokoh. Candi yang menghadap ke barat itu seolah menanti sang surya tenggelam berganti malam di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.

Ada sebuah pupuh dalam kata Negarakretagama yang berbunyi “Bathara Anusapati menjadi raja, Selama pemerintahannya tanah Jawa kokoh sentosa, Tahun caka Persian Gunung Sambu (1170 C - 1248 M) beliau berpulang ke Siwabudaloka, Cahaya beliau diujudkan arca Siwa gemilang di Candi Kidal”

Penggalan pupuh tersebut menceritakan kejayaan raja ke-2 Singosari, Anusapati beserta tempat pendharmaannya di Candi Kidal. Di dinding kaki candi juga mengandung pesan moral tentang pembebasan perbudakan atau mitos Garudheya yang dikenal masyarakat Jawa kuno, khususnya yang mendapat pengaruh Hindhuisme.

Diceritakan Pak Rabun, seorang juru rawat yang sudah mengabdi selama 50 tahun lebih, candi itu bisa dikatakan candi pemujaan tertua di Jawa Timur. Dibangun pada 1248 M, setelah upacara pemakaman ‘Cradha’ untuk Raja Anusapati, yang merupakan keturunan Ken Dedes dari Raja Tumapel Tunggul Ametung.

Menurut sejarah, candi itu dibangun untuk mendharmakan Raja Anusapati, agar sang raja memperoleh kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa. Selain itu, di dinding kaki candi juga terdapat relief Garudheya yang konon merupakan pesan Anusapati sebelum meninggal untuk membebaskan ibunya yang selama hidupnya menderita. Sayangnya, tidak satupun arca yang masih bisa dilihat di Candi Kidal.

Meski demikian, ada relief Garudheya yang bisa dilihat dan dipelajari. Dalam kesusastraan Jawa kuno, mitos Garudheya ini cukup terkenal yakni cerita seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan).

Relief mitos Garudheya itu, kata Pak Rabun, dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat ibunya Ken Dedes. Mitos Garudheya terpahat secara lengkap dalam relief di seputar kaki candi. Untuk membacanya digunakan teknik prasawiya atau dibaca dengan arah berlawanan dengan jarum jam dan dimulai dari sisi selatan.

Relief pertama di sisi selatan menggambarkan seekor garuda menggendong tiga ekor ular besar, relief kedua melukiskan seekor garuda dengan kendi di atas kepalanya, dan relief ketiga berupa garuda menggendong seorang wanita.

Menurut legenda, sambung Pak Rabun, mitos tersebut mengisahkan perjuangan seorang anak untuk membebaskan ibunya dari penderitaan. Di mana Garudheya merasa sedih melihat penderitaan ibunya yang harus menjadi budak dan mencari cara untuk membebaskan perempuan yang melahirkannya itu.

Akhirnya Garudheya berhasil mendapatkan keterangan jika ibunya bisa bebas dari ikatan perjanjian dengan tebusan tirta amerta (air kehidupan) yang tersimpan di kahyangan yang dijaga oleh Dewa Wisnu.

Setelah melalui berbagai rintangan, Garudheya berhasil mendapatkan izin dari Dewa Wisnu untuk mengambil tirta amerta dengan syarat dia harus menjadi tunggangan.

Selain cerita mitos Garudheya, masyarakat di sekitar lokasi dan kelompok kesenian jaranan dari berbagai daerah di Malang juga sering menggelar ruwatan di candi tersebut. Para pelajar dan masyarakat umum juga sering mengunjungi candi ini dan mendengar kisah dari Pak Rabun.

Dalam berbagai sumber sejarah, diceritakan jika Anusapati atau juga yang bergelar Panji Anengah adalah putra Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Anusapati saat itu masih berada di dalam kandungan ketika ibunya Ken Dedes diperistri Ken Arok setelah membunuh Tunggul Ametung.

Anusapati hingga dewasa tidak mengetahui jika ayah tirinya adalah pembunuh ayah kandungnya. Setelah tahu, dia akhirnya mengatur siasat untuk membunuh Ken Arok. Dia kemudian menggantikan Ken Arok sebagai Raja Singosari selama 20 tahun.

(ris)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    PDIP Siap Dialog Selesaikan Kisruh di DPR