Asuransi Korban Pekerja Tambang Freeport Segera Rampung

Rabu, 15 Mei 2013 17:24 wib | K. Yudha Wirakusuma - Okezone

Muhaimin Iskandar (Foto: Runi Sari/Okezone) Muhaimin Iskandar (Foto: Runi Sari/Okezone) JAKARTA - Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengatakan, pekerja tambang yang menjadi korban akibat runtuhnya terowongan bawah tanah di PT Freeport di Timika, Papua Barat dipastikan akan mendapatkan santunan asuransi kecelakaan kerja sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kita pastikan para korban baik yang meninggal dunia ataupun mengalami luka-luka pasti mendapat santunan asuransi,“ kata Muhaimin di Jakarta, Rabu (15/5/2013).

Sampai saat ini, Kemnakertrans masih berkoordinasi dengan Kepolisian, Dinas Tenaga Kerja Papua Barat dan Kementerian ESDM, guna mempercepat upaya penyelamatan dan menyelidikan penyebab utama terjadinya kecelakaan.

“Kita masih fokus pada upaya-upaya pencarian dan penyelamatan para korban yang masih tertimbun di lokasi, serta menyelidiki penyebab kecelakaan kerja yang terjadi, apakah itu akibat human error ataupun murni peristiwa bencana alam,” terangnya.

Muhaimin telah menginstuksikan Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan (PPK), untuk mengambil langkah-langkah terkait kecelakaan kerja pekerja Freeport ini, termasuk berkoordinasi dengan Kementerian ESDM selaku pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di bidang pertambangan.

“Kita terus membantu dan mengawal proses evakuasi di lokasi kejadian. Bahkan untuk mempercepat proses evakuasi dan menyelidiki penyebab kecelakaan, dari pusat dilaporkan telah mengirimkan tiga orang instruktur tambang yang ahli menangani kasus serupa ini," ujar Muhaimin.

Diakuinya, resiko kecelakaan kerja di dalam proses produksi di sektor pertambangan memang cukup tinggi. Oleh karena itu, pihaknya akan terus mengingatkan dan sosialisasikan kepada perusahaan-perusahaan tambang dan para pekerjanya agar selalu menaati prosedur K3 di  lokasi kerja.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, saat ini kegiatan operasi Freeport sementara dihentikan untuk mengakomodir keinginan karyawan yang saat ini sedang berduka. Perusahaan dapat sepenuhnya fokus dalam upaya evakuasi dan penyelamatan karyawan yang masih terperangkap.

Diperkirakan, total karyawan yang menjadi korban longsor  saat mengikuti refresher course di tambang bawah tanah Big Gosan berjumlah 39 orang. Para korban berada di fasilitas pelatihan bawah tanah, bukan di area tambang (500 meter dari mulut tambang) dan terjebak longsor sejak Senin (13/5) lalu. Hingga kini empat orang dinyatakan meninggal dunia, 10 orang mengalami cedera dan luka-luka, sedangkan 25 orang diperkirakan masih terjebak dan masih dalam proses evakuasi penyelamatan. (put)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »