Pendidikan Baik Bikin Manusia Berbudaya Indonesia

|

Foto : Gubes Kedokteran UGM Sutaryo & Kepala PSP UGM Soedjito Sosrodihardjo/UGM

Pendidikan Baik Bikin Manusia Berbudaya Indonesia

JAKARTA - Kualitas pendidikan di Tanah Air masih diragukan oleh sejumlah pihak. Sehingga tidak jarang para orangtua mengirim anak mereka jauh-jauh ke luar negeri untuk mendapatkan pendidikan yang dinilai berkualitas lebih baik.

Padahal, pada prinsipnya, selama pendidikan tersebut baik, mau di luar atau di dalam negeri, mestinya mampu menghasilkan lulusan berciri manusia budaya Indonesia. Sementara ketika pendidikan dijadikan alat berpolitik, seperti yang terjadi di Indonesia semenjak orde baru, maka yang terjadi adalah para lulusan menjadi kuli di negeri sendiri.

“Meskipun dia seorang doktor sekalipun, tetap menjadi kuli di negeri sendiri,” ujar Guru Besar Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Sutaryo menjelang Sarasehan Nasional Pendidikan Urun Rembug Seputar Kurikulum 2013, seperti dikutip dari situs UGM, Rabu (15/5/2013).

Menanggapi polemik penerapan kurikulum 2013, Sutaryo mengatakan, ada dua kemungkinan yang terjadi dengan penerapan kurikulum baru tersebut. Pertama, lulusan tetap menjadi “kuli” atau justru berubah menjadi manusia berbudaya Indonesia. Pendidikan yang baik, lanjutnya, mampu menghasilkan tokoh-tokoh besar, seperti Sultan IX, Gus Dur, dan Ahmad Dahlan.

Meski mendapat pendidikan dasar dan tingkat lanjut dari Belanda, rasa nasionalisme Sultan XI tetap terjaga. Demikian juga Gus Dur yang mendapat pendidikan di Timur Tengah. “Kita tahu Sultan IX, mendapat pendidikan SD, SMP, dan SMA dari Belanda. Namun ciri ke-Indonesiaan sangat kental,” ungkap pakar peneliti Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM itu.

Kepala Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM Soedjito Sosrodihardjo menambahkan, dunia pendidikan saat ini memang masih jauh dari harapan. Padahal input yang dimiliki sangat membanggakan karena banyak pelajar pintar dan cerdas.

“Tapi kenapa ya, output yang dihasilkan tidak sebaik yang diharapkan? Mungkin salah satunya karena permasalahan kurikulum selama ini,” papar Soedjito.

Dia berpendapat, terjadi tarik ulur kepentingan dalam kurikulum selama ini. Bahkan kurikulum oleh banyak pihak tidak dipahami sebagaimana mestinya. “Tarik ulur kepentingan inilah yang menjadi masalah,” tandasnya.

(mrg)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    10 Ribu Masker Dibagikan ke Warga Sekitar Gunung Gamalama