"Tak Ada Bidikmisi, Mungkin Sudah Jadi Kuli..."

Ilustrasi. (Foto: Heru Haryono/okezone)

SAYA sangat bersyukur sekali bisa diterima kuliah melalui beasiswa Bidikmisi. Dulu saya tak dapat membayangkan, mungkin seandainya tidak ada beasiswa Bidikmisi, saya sudah menjadi kuli dan terkungkung dengan peradaban desa yang sangat jauh dari pendidikan dan kemajuan.

Beasiswa Bidikmisi telah menyelamatkan saya dari putus pendidikan, sehingga saya semakin sadar makna penting kesuksesan di masa depan. Kota Surabaya tempat saya kuliah menjanjikan banyak harapan, akses informasi sangat cepat, transportasi mudah, dan sarana-prasarana belajar yang lengkap.

Tentu pula kerlap-kerlip lampu metropolitan, bangunan pencakar langit, dan semua pernak-pernik kota menjadi pemandangan indah bagi saya yang sejak kecil jauh dari kehidupan kota.

Pengalaman ini mungkin juga dirasakan oleh teman-teman Bidikmisi yang lain di seluruh kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Malang, Medan, Yogyakarta, Batam, Padang dan kota-kota besar lainnya. Karena penerima beasiswa Bidikmisi rata-rata anak desa pedalaman dan dari keluarga kurang mampu alias miksin.

Wajar bila sangat antusias belajar di bangku kuliah dan  hidup di kota besar. Apalagi seandainya tidak ada beasiswa Bidikmisi mungkin kami tidak merasakan semua itu. Karena untuk saya pribadi misalnya, keluarga saya di rumah sangat sulit sekali untuk sekadar mendapatkan uang satu ribuh rupiah, sangat tidak mungkin jika tidak ada beasiswa Bidikmisi saya bisa kuliah di kota besar seperti Surabaya.

Biaya kuliah, kos, makan, buku, dan semua peralatan hidup yang saya butuhkan serba mahal. Sementara keluarga di rumah untuk biaya hidup sendiri saja sering kekurangan, bahkan sering ngutang. Begitupun dengan teman-teman Bidikmisi yang lain, baik di kampus tempat saya belajar atau di kampus lain, dari curhatan mereka yang disampaikan kepada saya, mereka juga merasakan hal yang sama.

Keluarga mereka juga kurang mampu, bahkan untuk dimakan saja kadang ngutang. Karena itu, ketika sampai sekarang dana beasiswa Bidikmisi belum cair, teman-teman semua kebingungan. Sudah memasuki lima bulan dana beasiswa Bidikmisi belum cair sampai sekarang. Bahkan, ada tiga anak di kampus tempat saya belajar yang sejak menjadi mahasiswa awal pertengahan 2012 sampai saat ini belum mendapatkan uang Bidikmisi sama sekali. Sungguh sangat memprihatinkan!

Pasalnya, masalah itu terjadi karena sejak 2012 beasiswa Bidikmisi di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) dialihkan ke Kementerian Agama (Kemenag), sedangkan untuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tetap di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Pemindahan itu sekaligus mengubah sistem penacairan dana Bidikmisi. Jika dulu untuk angkatan 2010 dan 2011 ketika masih di bawah Kemendikbud dana Bidikmisi langsung dicairkan ke rekening kampus, sehingga pencairan dananya kepada mahasiswa penerima Bidikmisi dilakukan di kampus.

Namun sejak angkatan 2012 kerana di kampus tempat saya belajar sudah di bawah Kemenag, pencairan dananya langsung dari pusat Kemenag Jakarta dikirim ke rekening masing-masing mahasiswa. Sehingga bila uangnya tidak masuk ke rekening bersangkutan untuk mengurusnya sangat sulit dan ribet sekali. Akhirnya, sampai sekarang ketiga teman saya itu belum mendapat uang sama sekali, dan hal ini juga terjadi di kampus PTAIN yang lain.

Lebih Profesional

Sejak awal saya menerima beasiswa Bidikmisi, pencairan dananya memang selalu terlambat. Namun untuk tahun ini keterlambatannya sangat lama sekali, sehingga banyak teman-teman Bidikmisi yang kebingungan. Mereka risau hendak melalukan apa. Uang mereka habis.

Sementara mereka harus bayar biaya makan, kos, buku, print, fotokopi, dan semua kebutuhan lainnya. Sudah berkali-kali meminta ke rumah, namun karena di rumahnya juga tidak ada uang, mereka kesulitan. Bahkan ada salah satu teman saya sampai menjadi kuli untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka tidak bisa konsentrasi belajar karena harus bekerja. Perjuangan di kota besar memang sangat sulit. Berhari-hari kadang sampai tidak makan, demi bisa belajar di bangku kuliah.

Karena itu, pemerintah mestinya sadar bahwa penerima beasiswa Bidikmisi adalah mahasiswa dari keluarga kurang mampu, yang seandainya tidak ada beasiswa Bidikmisi tidak mungkin mereka bisa kuliah dan hidup di kota besar. Mereka semua selama ini bertahan hidup bergantung pada dana beasiswa Bidikmisi. Keterlambatan dana beasiswa Bidikmisi sama saja dengan menelantarkan anak-anak miskin.

Pemerintah, saya yakin sudah tahu jika peserta Bidikmisi memang anak-anak miskin. Bahkan saat awal pendaftaran, selain berprestasi, syarat miskin menjadi poin utama. Jadi untuk mendapatkan beasiswa Bidikmisi harus miskin. Jika tidak miskin nihil bisa dapat beasiswa Bidikmisi. Bahkan sudah dilakukan observasi ke rumah peserta Bidikmisi untuk mengecek fakta yang sebenanya, apakah miskin atau hanya pura-pura miskin.

Jika mereka sudah paham bahwa peserta beasiswa Bidikmisi anak kurang mampu atau anak miskin, mengapa selama ini pemerintah masih sering melambatkan pencairan dananya? Sekarang ini dari informasi yang sampai kepada kami di kampus, dana Bidikmisi tidak cair karena anggarannya masih dibintang oleh DPR.

Sehingga Kementerian Keungan (Kemenkeu) belum bisa mencairkan dana itu kepada Kemendikbud dan Kemenag. Akhirnya kami ditelantarkan di kota-kota besar. Persoalan keterlambatan dana Bidikmisi ini di rasakan oleh semua mahasiswa  Bidikmisi di Tanah Air.

Oleh sebab itu, saya berharap Bapak DPR yang terhormat, segera melepas bintang dana Bidikmisi agar kami bisa segera makan, bayar kost, beli buku, dan bisa konsentrasi belajar dengan baik. Selama ini kami kadang tidak makan berhari-hari demi bisa belajar. Hidup di kota besar tidak seperti di desa.

Jika di desa tidak makan mungkin masih ada tetangga yang bisa berbagi makanan. Namun hidup di kota besar, ketika tak ada makanan kami benar-benar tidak makan. Kota besar sangat keras sekali. Perjuangan kami sangat sulit sekali bertahan hidup tanpa dana beasiswa Bidikmisi. Karena kami masih sedang belajar.

Kami harus banyak konsetrasi mendalami pelajaran. Tolong Bapak DPR yang terhormat kepentingan politik jagan dibawa ke ranah pendidikan. Pendidikan adalah tempat penecerahan jiwa dan pikiran menuju keadaban bangsa.

Salam hormat dari mahasiswa Bidikmisi untuk Kemendikbud dan Kemenag, kami berharap pengelolaan beasiswa Bidikmisi lebih profesional, sehingga kami bisa belajar lebih maksimal di kampus untuk kemajuan dan keabadan Indonesia. Salam prestasi!

Masduri
Ketua Umum Aliansi Mahasiswa Bidikmisi (AMBISI) dan Pustakawan Pesantren Mahasiswa (PesMa) IAIN Sunan Ampel Surabaya. (ade)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Dibawa Kabur Pacar, Siswi SMA Disiksa & Disetubuhi