Komnas Anak Kawal Kasus Siswa Gantung Diri karena UN

|

Arist Merdeka menemui keluarga siswa gantung diri (Foto: Marieska H/Okezone)

Komnas Anak Kawal Kasus Siswa Gantung Diri karena UN

DEPOK – Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak menyambangi rumah Fanny Wijaya (16), siswi SMP PGRI Pondok Petir, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, yang tewas gantung diri karena takut tak lulus Ujian Nasional (UN). 

Saat menyambut rombongan Komnas PA, ibunda Fanny, Yani, mencurahkan isi hatinya sambil berurai air mata. Menurutnya, Fanny sudah cemas sebelum UN, saat UN, dan hingga menjelang pengumuman UN.

"Semua buku diisi, saya sudah bilang jangan diforsir, tapi Fanny bilang mau kejar nilai nanti takut enggak lulus," ungkap Yani di rumahnya Perumahan Reni Jaya Blok G11/4, Bojongsari, Depok, Rabu 22 Mei.

Yani bercerita, Fanny menggantung dirinya di dapur menggunakan selendang pada Sabtu, 18 Mei pukul 06.15 WIB. Dia mengaku tak mendengar suara apa pun pada saat kejadian.

"Saya enggak dengar apa-apa. Panik pakai kursi hitam. Selama ini Fanny enggak pernah punya masalah apa-apa, punya pacar juga enggak. Hanya fokus sekolah dan khawatir menghadapi pengumuman, jadi murung setelah UN," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komnas PA, Arist Merdeka Sirait, mengatakan, kasus Fanny akan disampaikan ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar menjadi bahan evaluasi penyelenggaraan UN. Arist menegaskan UN boleh dilakukan asal bukan menjadi penentu kelulusan, melainkan hanya sebagai pemetaan untuk mengetahui kelulusan.

"Sebelum ujian cemas, ujian cemas, tunggu pengumuman cemas. UN boleh, hanya sebagai pemetaan untuk mengetahui mutu pendidikan, mengukur keberhasilan, 60 persen UN sebagai penentu, membuat anak khawatir kalau dari 60 persen itu jeblok, tetap enggak lulus," tegas Arist.

(tbn)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kebakaran di Tambora, Ibu & Anak Tewas