JAKARTA - Ancaman keluar dari keanggotaan Setgab Koalisi oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dinilai sebagai bentuk agresivitas verbal semata, tanpa didukung oleh realisasi. Demikian disampaikan analis politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto.
Menurutnya, ancaman tersebut tidak lain hanya gertakan semata, yang bila dilihat track record-nya selama ini sama sekali tidak ditindaklanjuti dengan perilaku praktis partai berbasis Islam itu.
"PKS tidak konsisten dengan sikap mereka. Mereka terapkan double standard (standar ganda). Di satu sisi ingin berada di kekuasaan, tetapi di sisi lain mereka banyak berbeda pandangan dengan policy (kebijakan) pemerintahan SBY," kata Gun Gun kepada Okezone, di Jakarta, Jumat (24/5/2013).
Ditambahkannya, PKS seharusnya menunjukkan sikap jantan (gentle) serta ketegasan yang kongkret, apakah memilih di luar atau di dalam kekuasaan pemerintah, karena dalam politik integritas lanjut Gun Gun, sangat menuntut konsistensi.
"Nah, dalam konteks ini saya kira adanya dua sikap berbeda di antara elite PKS, di satu sisi ada yang menerapkan strategi agresivitas verbal di sisi lain ada yang lebih kalem dan ingin mempertahankan koalisi. Gertakan elite PKS ini harus kita posisikan dalam konteks manajemen konflik diantara mereka," tukasnya.
(Rizka Diputra)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.