JAKARTA - Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) meminta untuk dilibatkan dalam tim investigasi runtuhnya terowongan di area Big Gossan PT Freeport Indonesia di Timika, Papua.
"Agar kita memperoleh hasil investigasi yang maksimal. Saya akan terus mengawasi penyelesaian masalah ini," kata Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea dalam siaran persnya kepada Okezone, Sabtu (25/5/2013).
Selain itu, saat bertemu dengan Direksi PT Freport, Andi meminta agar nilai santunan yang diberikan kepada korban tidak dibeda-bedakan. Pasalnya, menurut dia, korban dalam kejadian itu juga ada dari karyawan kontraktor.
"Nilai santunan terhadap korban tidak boleh dibeda-bedakan walaupun ada yang bukan karyawan Freeport, ada juga korban merupakan karyawan kontraktor Freeport," cetusnya.
Andi didampingi Ketua SPSI Freeport, Sudiro dan Pimpinan SPSI Timika, Virgo Solosa, beberapa waktu lalu mendatangi lokasi kejadian. Bersama anggota SPSI, mereka menggelar doa bersama untuk 28 korban tewas.
"Saya sangat sedih melihat kondisi runtuhan di ruang pelatihan Freeport. Saya tidak habis pikir, ruang pelatihan kok di tempat seperti itu," terangnya.
Insiden runtuhnya terowongan di Big Gossan terjadi pada 14 Mei 2013 lalu. Sebanyak 38 pekerja yang terjebak di dalam reruntuhan terowongan akhirnya bisa dievakuasi. Dari jumlah itu, 10 orang berhasil diselamatkan, sementara 28 orang lainnya tewas.
(Tri Kurniawan)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.