Mabes Polri Tuding Warga Poso Bertindak Brutal

Ilustrasi (Dok Okezone)

Mabes Polri Tuding Warga Poso Bertindak Brutal
JAKARTA - Mabes Polri menilai aksi pemblokiran jalan dan perusakan oleh warga Poso untuk memprotes penembakan mati Nudin alias Bondan oleh Detasemen Khusus, sebagai tindakan anarkis.
 
Mabes Polri tetap bersikukuh bahwa Nudin yang merupakan anak buah kelompok teroris Santoso melakukan perlawanan saat akan ditangkap sehingga terpaksa ditembak mati. Versi lain, petugas langsung menembak Nudin setelah menabrak motornya menggunakan mobil karena berusaha melarikan diri. Dalam kaitan ini warga menilai aksi polisi sudah kelewatan karena menembak orang yang tidak melawan dan tidak membawa senjata api.
 
Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Mabes Polri, Kombes Pol. Agus Rianto, mencoba meluruskan penilaian masyarakat. Menurut dia, peristiwa penangkapan terjadi sekira pukul 16.00 Wita di Jalan P. Irian, Poso.
 
Saat itu, Nudin keluar dari sebuah kampung bernama Kayamanya menuju Jalan Irian. Saat itu, anggota Densus 88 berusaha menghentikan. Namun, yang bersangkutan melaju dan menabrak mobil petugas. Penyuplai logistik kelompok teroris Santoso ini pun langsung menembak ke arah petugas.
 
"Karena, melawan dan tidak menutup kemungkinan akan membahayakan orang lain termasuk petugas. Akhirnya anggota berusaha melumpuhkan dengan cara memberi tembakan. Akibat peristiwa tersebut, tersangka meninggal dunia," jelas Agus kepada wartawan di Gedung Humas Mabes Polri, Selasa (11/6/2013).
 
Dari peristiwa tersebut, Kepolisian berhasil menyita satu senjata api jenis pistol berikut 6 butir peluru dan jenazah sudah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Palu.
 
Kemudian, dampak dari peristiwa penangkapan tersebut menimbulkan tindakan atau perbuatan lanjutan yang berisfat anarkis dari kelompok masyarakat di sekira tempat dilakukannya penangkapan.
 
"Tindakan itu, membuat beberapa fasilitas umum rusak dan lalu lintas jalan terganggu. Namun, tadi malam berhasil dinetralisir dan sekarang kondusif," tegasnya.
 
Akibat kejadian itu, beberapa baliho di sekitar lokasi rusak, karena dibakar. Beruntung saat bentrok, petugas Kepolisian tidak menjadi korban. Agus menyatakan, kelompok masyarakat yang anarkis merupakan kerabat tersangka.
 
"Sebagian kerabat pelaku dan masyarakat lingkungan yang tidak mengerti secara pasti peristiwa tersebut kemudian melakukan tindakan solidaritas," paparnya.
 
Kepolisian pun mengimbau kepada seluruh masyarakat bahwa tugas yang dilakukan Polri berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Apabila, akibat dari proses pelaksanaan tugas Polri ada masyarakat yang tidak sependapat atau perlu penjelasan, maka ada mekanisme hukumnya.
 
"Kita terbuka, menerima masukan dan kritik. Sehingga, perbuatan yang menjurus anarkis mari dihindari, karena akibat tindakan tersebut merugikan pihak lain yang tidak terlibat," tutupnya.
(ful)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Lima Calon Menteri Jokowi Bermasalah