JAKARTA - Kapolri Jenderal Timur Pradopo meminta maaf lantaran peristiwa tertembaknya wartawan yang tengah meliput aksi demonstrasi menolak kenaikan harga BBM kemarin.
"Saya mohon maaf pada media, yang kebetulan ada di kerumuman itu. Jadi tidak mungkin kalau ada hal-hal penembakan," kata Timur sebelum melakukan rapat dengan Komisi III DPR RI, Jakarta, Selasa (18/7/2013).
Timur berdalih, penembakan ini dilakukan saat situasi dari peserta demonstran mulai tidak kondusif. Karena itu, lanjut Timur, gas air mata pun ditembakan. Sayangnya, pecahan amunisi gas air mata ini pun mengenai salah satu wartawan yang meliput.
"SOP-nya kalau sudah mau merusak, menggangu, kita tak boleh pakai amunisi lain, gas air mata, pecahannya itu yang harus diantisipasi," jelas Timur.
Lanjutnya, Polri akan bertanggung jawab hingga korban sembuh. Selain itu, Timur menegaskan kasus ini akan dituntut tuntas. Jajaran terkait, baik Polda atau pun Polres juga diperiksa untuk mengetahui siapa yang melaksanakan penembakan ini.
"Polda dan polres lagi periksa siapa yang melaksanakan kenapa seperti itu. Nanti menunggu pemeriksaan," paparnya.
Seperti diketahui, Jurnalis Trans7 Nugroho Anton mendapatkan luka tembak saat meliput aksi unjuk rasa penolakan kenaikan harga BBM di depan Gedung DPRD Jambi. Kini dia tengah mendapatkan perawatan di RSUD Mattaher Jambi.
(Ahmad Dani)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.